·Tradisi-tradisi Muslim: Orang Yahudi dan Kristen menantikan seorang nabi.
·Penglihatan Muhammad yang pertama: malaikat– atau sesuatu yang lain?
·Ketakutan Muhammad dan keinginan untuk bunuh diri
·Bagaimana Muhammad menjadi yakin bahwa ia adalah seorang nabi
ARABIA SEBELUM MUHAMMAD
MUHAMMAD MEMPERKENALKAN ISLAM KE ARABIA YANG MEMILIKI BANYAK BUDAYA DAN AGAMA. Suku Muhammad sendiri, kaum Quraysh, adalah penyembah berhala. Orang Quraysh tinggal di kota Mekkah, yang merupakan pusat perdagangan dan ziarah: para pengelana dari daerah-daerah sekelilingnya melewati kota itu. Orang Quraysh mendapatkan banyak keuntungan melalui perdagangan dengan para peziarah yang pergi ke kuil lokal, yaitu Ka’bah, yang menjadi tempat kediaman banyak berhala – terutama patung dewa Hubal. Dewa-dewa lokal dari tiap suku ada di dalam kuil itu, bersama dengan berhala-berhala lainnya yang berupa pohon-pohon dan batu-batu dekat Ka’bah. Salah-satu dari dewa-dewa ini, yaitu “Allah”, belum dijadikan sesembahan Islam, dan merupakan dewa sesembahan orang Quraysh. Yang lainnya adalah tiga dewi yang dipuja banyak suku yaitu, al-Lat, al-‘Uzza, dan Manat, yang memainkan peranan penting dalam karir kenabian Muhammad.
Oleh karena peran sentral yang dimiliki Mekkah baik dalam bidang perdagangan dan agama dari daerah-daerah di sekelilingnya, orang Quraysh menggunakan pengaruh yang besar; sebagaimana yang akan kita lihat, penolakan orang Quraysh terhadap Muhammad memprovokasi suku-suku lain untuk juga menolak Muhammad, walaupun kemudian penerimaan kepadanya juga menimbulkan berpalingnya suku-suku lain kepada Islam.
·Oposisi mula-mula terhadap Muhammad dari sukunya sendiri.
·Evolusi pengajaran Qur’an mengenai peperangan terhadap orang-orang yang tidak beriman
·Ayat-ayat setan: usaha Muhammad untuk menang atas lawan-lawannya.
·Bagaimana para apologis Islam berusahauntuk menjelaskan insiden ayat-ayat setan.
·Perjalanan malam Muhammad ke Yerusalem.
Masalah-Masalah Dengan Orang Quraysh
Setelah Muhammad yakin, dan dengan bantuan Khadija dan Waraqah bahwa ia adalah seorang nabi, ia mulai berbicara secara sembunyi-sembunyi pada orang-orang tentang sebuah agama yang baru. Pada awalnya, substansi pengajarannya hanyalah monotheisme sederhana: “Ini adalah agama Allah yang telah dipilih-Nya untuk diri-Nya sendiri dan Ia telah mengirimkan rasul-Nya. Aku memanggil kamu kepada Allah, Dia yang tidak dipersekutukan, untuk menyembah-Nya dan meninggalkan al-Lat dan al-‘Uzza”.(1)Istrinya Khadija menjadi orang Muslim yang pertama, diikuti oleh Ali bin Abu Talib, lalu seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, yang di kemudian hari menjadi tokoh yang ternama dalam perpecahan antara kelompok Sunni dan Syiah, dan beberapa orang lainnya. Tiga tahun setelah kunjungan mula-mula dari dia yang kemudian dipercayai sebagai Jibril, yaitu yang terjadi pada sekitar tahun 610 M, Allah memerintahkannya untuk “memproklamasi-kan apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpaling dari politeisme.”(2)
Muhammad mengumpulkan kaum kerabatnya, orang-orang Quraysh, mendaki sebuah gunung dan menyerukan nama-nama berbagai klan Quraysh. Ia bertanya pada mereka, “Jika aku mengatakan padamu bahwa ada pasukan (musuh) di lembah yang berniat untuk menyerang kalian, apakah kalian akan percaya padaku?”
Mereka menjawab, “Ya, karena kami tidak ada mendapati kamu berbicara hal yang lain selain dari kebenaran.”
Tanggapan Muhammad terhadap hal ini adalah: “Aku adalah seorang yang memberi peringatan kepada kamu di hadapan penghukuman yang mengerikan.” Dengan kata lain, penghukuman yang mengerikan dari Allah akan lebih dahsyat daripada pasukan musuh.
Peringatan ini mengusik paman Muhammad, Abu Lahab, yang tidak percaya pada klaim kenabian keponakannya itu. Ia menegur Muhammad, “Kiranya tanganmu menghancurkan semua hari ini. Untuk tujuan inikah kau mengumpulkan kami?”(3)Sambil berpaling kepada kumpulan orang Quraysh, Abu Lahab berkata: “Tuan rumahmu telah menyihir kamu.” (4)
Allah sendiri memberikan kepada Muhammad tanggapan-Nya tentang Abu Lahab dalam sebuah wahyu yang baru: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali sabut” (Sura 111:1-5). Sebuah Hadith menginformasikan pada kita bahwa Abu Lahab “benar-benar celaka”.(5)Hadith itu tidak mencatat cara kematiannya, tapi ada satu kemungkinan yaitu: pada titik ini orang-orang Muslim tidak bermaksud menyerang musuh-musuhnya dengan serangan yang kejam.
Yahiya Emerick memberikan kisah ini sudut pandang yang baru dalam biografi apologetikanya mengenai Muhammad. Setelah Muhammad menyampaikan pesannya, ia berkata: “Abu Lahab, yang berdiri di dekatnya, mengutuki Muhammad dengan amarah dan mengatakan padanya bahwa ia harus mati. Muhammad menahan lidahnya (untuk berbicara), karena aturan adat/kuno untuk menghormati orang yang lebih tua terpatri dalam dirinya. Tak lama kemudian, beberapa ayat diwahyukan kepadanya, dan ayat-ayat itu mengatakan bahwa Abu Lahab-lah yang akan binasa”.(6)
Muhammad terus berdakwah namun tidak banyak mendatangkan pengaruh. Orang-orang yang meremehkannya bertanya padanya mengapa ia tidak mengadakan mujizat, memintanya untuk mengubah gunung-gunung di sekitar Mekkah menjadi emas untuk mereka, atau memulangkan mereka semua sekaligus sehingga pertanian mereka tidak terbengkalai. Allah menjawab kepada Muhammad: “Jika kamu menginginkannya, Aku akan bersabar dan memberi mereka lebih banyak waktu, atau jika kamu menghendakinya, Aku akan melakukan apa yang mereka minta, tetapi jika kemudian mereka tidak percaya, mereka akan dihancurkan sama seperti bangsa-bangsa sebelum mereka.”(7) Muhammad meminta agar mereka diberi waktu lebih banyak, dan memberi jawaban kepada musuh-musuhnya bahwa mujizatnya adalah Qur’an.