Friday, January 1, 2010

Bab 8 - Menebarkan Teror Ke Dalam Hati Mereka

· Perang Parit dan ambisi imperialisme Muhammad

· Muhammad dan pembantaian terhadap suku Yahudi Qurayzah

· Pelecehan terhadap kaum wanita suku Mustaliq

· Perjanjian Hudaybiyya: sebuah rancangan kenyamanan

· Pengepungan Khaybar dan diracunnya Muhammad

Perang Parit

Setelah pengusiran terhadap Bani Qaynuqa dan Nadir dari Medina, beberapa orang Yahudi yang masih tinggal mendekati orang Quraysh, menawarkan sebuah kesepakatan untuk melawan Muhammad dan orang-orang Muslim. Orang Quraysh langsung menerimanya dan bertanya pada mereka: “Kalian, orang Yahudi, adalah para ahli kitab yang pertama dan mengetahui natur pertikaian kami dengan Muhammad. Manakah yang lebih hebat, agama kami atau agamanya?”(1) Orang-orang Yahudi menjawab, seperti yang diharapkan dalam keadaan itu, bahwa tentu saja agama pagan orang Qurayshlah yang lebih baik. Ketika Muhammad mendengar hal ini, Allah memberinya sebuah wahyu: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah” (Sura 4:51-52).

Muhammad, yang diingatkan akan kesepakatan yang baru itu, memerintahkan agar sebuah parit digali mengelilingi Medina. Usaha yang besar ini memerlukan banyak tenaga manusia: banyak orang Muslim diwajibkan untuk melakukan pelayanan ini, namun demikian banyak juga yang enggan. Hanya sedikit orang yang meminta ijin Muhammad untuk tidak ikut dalam proyek ini, dan beberapa diantara mereka memberikan alasan yang tidak-tidak. Oleh karena itu Muhammad kemudian menerima sebuah wahyu lainnya, yang mengingatkan mereka bahwa orang Muslim sejati tidak menganggap enteng perintah-perintah nabi Islam:

“..maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Sura 24:62-63).

Insiden-insiden seperti ini menegaskan perintah-perintah ilahi dan meninggikan status Muhammad di antara orang Muslim. Ketika kerusuhan mengenai kartun-kartun Muhammad yang dibuat oleh orang Denmark mengguncang dunia pada akhir tahun 2005 dan awal 2006, banyak orang non-Muslim tidak memahami reaksi kemarahan orang Muslim. Setidaknya kemarahan itu berhubungan dengan fakta bahwa di dalam Qur’an berulangkali Allah sangat menghargai nabi-Nya dan siap untuk memerintahkan apa yang akan menyenangkannya. Bagi orang yang menerima Qur’an sebagai sebuah wahyu yang otentik, ini terutama sekali menempatkan Muhammad pada posisi yang penting.



Selama penggalian parit, Muhammad mendapatkan penglihatan-penglihatan bahwa ia akan menaklukkan wilayah-wilayah perbatasan Arabia. Kisah ini menjadi sebuah legenda, namun apakah itu berasal dari Muhammad atau dengan komunitas Muslim, itu mengindikasikan rancangan-rancangan imperialistis yang dimiliki oleh orang Muslim mula-mula terhadap daerah-daerah di sekeliling Arabia. Seorang Muslim mula-mula, Salman orang Persia, sedang menggali parit ketika ia mulai mengalami kesulitan dengan sebuah batu yang besar. “Rasul”, Salman menjelaskan, “yang berada tidak jauh, melihat aku menggali dan melihat betapa sulitnya tempat itu. Ia masuk ke dalam parit itu dan mengambil cangkul dari tanganku dan memukul dengan keras sehingga ada sinar terlihat di bawah cangkul itu.”(2) Kilatan cahaya “memancar, menerangi semua yang ada diantara dua batu hitam – yaitu, dua batu hitam Medina – seperti lampu di dalam kamar yang gelap.” Muhammad meneriakkan jeritan kemenangan Islam, “Allahu akbar”, dan semua Muslim meresponi dengan teriakan yang sama.(3) Ini terjadi lagi hingga ketiga kalinya, dengan cara yang persis sama. Akhirnya Salman bertanya kepada Muhammad, “Wahai engkau, yang lebih terkasih daripada ayah atau ibu, apakah arti sinar di bawah cangkulmu saat engkau memukulkannya?”

Nabi Islam menjawab: “Apakah engkau benar-benar melihatnya, Salman? Yang pertama berarti bahwa Tuhan telah membuka jalan untukku ke Yaman; yang kedua Syria dan Barat; dan ketiga adalah Timur”.(4) Atau, menurut versi yang lain dari kisah yang sama, Muhammad mengatakan: “Kali pertama aku memukul, dan kilatan yang kau lihat, maka istana-istana al-Hirah [yang pada masa kini adalah wilayah Selatan Irak] dan al-Madai’in di Kisra [kota musim dingin kekaisaran Sassanid] memandang padaku seakan-akan mereka adalah gigi anjing, dan Jibril memberitahukanku bahwa bangsaku akan menang atas mereka.” Pukulan yang kedua menerangi dengan cara yang sama “istana-istana orang-orang bermuka pucat di negeri Byzantium”, dan yang ketiga “istana-istana San’a” – yaitu, Yaman.(5) Jibril menjanjikan Muhammad kemenangan atas semua itu, mengulangi sebanyak tiga kali: “Bersukacitalah, kemenangan akan datang pada mereka!” Untuk ini Muhammad menjawab, “Terpujilah Tuhan! Janji dari Dia yang benar dan setia! Ia telah menjanjikan kita kemenangan setelah kesengsaraan”.

Beberapa dekade kemudian, ketika negara-negara yang disebutkan dalam legenda ini benar-benar ditaklukkan oleh para pejuang jihad, seorang Muslim tua selalu berkata: “Taklukkanlah dimana saja yang kau kehendaki, demi Tuhan, kamu belum menaklukkan dan hingga hari kebangkitan kamu tidak akan menaklukkan sebuah kota yang kuncinya tidak diberikan Allah sebelumnya kepada Muhammad.(6) Tapi semua penaklukkan itu masih jauh di masa depan. Pada waktu itu baru pengepungan terhadap Medina.

Ketika orang Quraysh, bersama dengan suku lain, suku Ghafatan (yang dikenal secara kolektif dalam tradisi Islam sebagai “kaum konfederasi”) mengepung Medina, parit itu mencegah para penerobos untuk masuk ke kota itu, tetapi orang Muslim tidak dapat memaksa mereka untuk mengakhiri pengepungan itu. Kemudian, untuk membuatnya semakin buruk, satu suku Yahudi di Medina, yaitu Bani Qurayzah, memutuskan perjanjian mereka dengan nabi Islam (boleh jadi setelah merenungkan takdir Bani Qaynuqa dan Nadir) dan mulai bekerjasama dengan orang Quraysh.(7)

Muhammad mengirimkan mata-mata ke tengah-tengah orang Qurayzah untuk mencari tahu apakah yang didengarnya itu benar, dan apakah mereka benar-benar telah memutuskan perjanjian mereka dengannya. Berita terburuk itu kemudian terkonfirmasi, ia berdiri tegak di tengah ketakutan umatnya, dan hanya berkata: “Tuhan Maha Besar! Bersukacitalah, orang-orang Muslim!”(8)

Saat pengepungan itu berjalan selama 3 minggu, situasi orang-orang Muslim menjadi semakin gawat. Keadaan menjadi sangat buruk hingga seorang Muslim mengkritik dengan pahit ambisi teritorial Muhammad dan rancangan-rancangannya terhadap dua kekuatan besar yang ada di perbatasan Arabia, yaitu kekaisaran Chosroes Persia dan kekaisaran Roma di Timur (Byzantium): “Muhammad biasa berjanji pada kita bahwa kita akan menikmati kekayaan Chosroes dan Kaisar Roma dan hari ini tidak seorangpun dari kita dapat merasa aman pergi ke kakus!”(9) Orang-orang Munafik menghubungkan ironi penglihatan-penglihatan Muhammad dengan posisi sulit yang dialami orang Muslim saat itu. Sebagai jawabannya Muhammad memberikan wahyu ini dari Allah: “Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’” (Sura 33:12).

Muhammad menuduh orang-orang Munafik telah mematahkan semangat orang Muslim dan dengan licik bersepakat dengan musuh-musuh Islam, dan menerima sebuah wahyu yang mendukungnya (Sura 33:13-14). Allah juga mengatakan pada Muhammad untuk menyampaikan pada umat bahwa desersi sama sekali tidak berguna: “Katakanlah lari itu sekali-kali tidak berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian), kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja” (Sura 33:16).

Sementara itu, Muhammad mengirimkan para penyelidik untuk melakukan negosiasi-negosiasi damai, menawarkan pada orang Quraish sepertiga dari panen kurma di Medina jika mereka memutuskan untuk mundur, tapi kemudian ada seorang Muslim, Sa’d ibn Mu’adh, mengingatkannya akan status orang Muslim yang diagungkan, dan mengatakan bahwa sangatlah memalukan jika menempatkan orang-orang Muslim Medina pada posisi yang lebih buruk di hadapan para penyembah berhala Quraysh ketimbang pada waktu mereka sendiri dulunya juga adalah penyembah berhala: “Kini setelah Tuhan mengaruniakan Islam pada kita, menuntun kita kepada Islam, dan menguatkan kita dengan kehadiranmu, haruskah kita memberikan kekayaan kita pada mereka? Kita tidak memerlukan hal ini! Demi Tuhan, kita hanya akan memberikan pedang pada mereka, hingga Tuhan menghakimi kita dan mereka.”

Muhammad menjawab, “Jadilah kehendakmu”, dan tidak lagi melanjutkan ide untuk memberikan upeti.(10)

Sementara pengepungan itu berlanjut, seorang pejuang Quraysh yang bernama Amr, menantang orang-orang Muslim untuk perang tanding satu lawan satu dan menghina mereka soal janji Muhammad tentang Firdaus: “Dimanakah Taman kalian yang katanya akan kalian masuki jika kalian mati di medan perang? Tidak dapatkah kalian mengutus seseorang untuk berduel denganku?” Seperti yang sudah diduga, oleh karena Muhammad sendiri berasal dari Mekkah, kampung halaman orang Quraysh, Amr mempunyai kerabat-kerabat diantara (yang adalah) orang Muslim. Keponakannya adalah Ali, yang adalah sepupu dan menantu Muhammad dan yang kemudian menjadi tokoh yang sangat dihormati oleh kelompok Islam Syiah. Kepada pamannya Ali berkata: “Aku mengundangmu kepada Tuhan dan Rasul-Nya dan kepada Islam”.

Amr menampik tawaran itu dan menolak turun dari kudanya. Tetapi ia menambahkan, “Wahai anak dari saudaraku, aku tidak ingin membunuhmu”.

Ali sama sekali tidak sentimentil. Ia menjawab pamannya: “Tetapi aku ingin membunuhmu”, dan ia melakukannya.(11) Loyalitas kepada Islam lebih pekat daripada ikatan darah.

Orang Qurayzah sepakat untuk menyerang orang Muslim di satu sisi sementara orang Quraysh mengepung mereka dari sisi lainnya. Tetapi kemudian situasi berbalik untuk orang Muslim. Seorang yang baru memeluk Islam, Nu’aym bin Mas’ud, menemui nabi dengan sebuah usul: oleh karena kaumnya sendiri, yaitu suku Ghafatan, tidak tahu kalau ia telah menjadi Muslim, Muhammad mungkin dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan atas musuh-musuhnya. Muhammad segera menyadari potensi situasi ini dan berkata: “Engkau bukan hanya seseorang diantara kami, maka pergilah dan timbulkanlah ketidakpercayaan diantara musuh untuk menyingkirkan mereka dari kita semampumu, karena perang adalah penipuan”.(12) Nu’aym pergi menemui orang-orang Yahudi Qurayzah dan mengingatkan mereka bahwa mereka lebih terancam daripada orang Quraysh dan Ghafatan; lagipula, semua istri dan properti mereka berada tidak jauh, sementara para istri dan properti orang Quraysh ada di Mekkah. Orang Qurayzah harus menuntut beberapa jaminan bahwa orang Quraysh akan benar-benar berperang untuk membela mereka: mereka harus meminta sandera dari antara para pemimpin Quraysh, yang akan dilepaskan jika Muhammad dan orang-orang Muslim dikalahkan. Orang Qurayzah menerima saran ini, sehingga Nu’aym kemudian bergegas menemui para pemimpin Quraysh dan Ghafatan dan mengatakan pada mereka bahwa orang-orang Yahudi mempunyai pendapat lain soal persekutuan mereka, dan ingin berdamai dengan Muhammad. Mereka telah menemui nabi Islam, kata Nu’aym, menawarkannya kepala beberapa orang Quraysh dan Ghafatan, dan Muhammad menerima tawaran itu. “Jadi”, Nu’aym menyimpulkan, “jika orang-orang Yahudi datang padamu untuk menuntut sandera, jangan berikan seorangpun pada mereka”.(13)

Tak lama kemudian, Abu Sufyan seorang pemimpin Quraysh mengirim pesan kepada orang Qurayzah bahwa serangan itu harus segera dimulai. Tetapi orang Qurayzah memprotes dengan mengatakan bahwa hari itu hari Sabat dan juga, “kami tidak mau memerangi Muhammad bersama dengan kalian hingga kalian memberikan pada kami sandera-sandera yang dapat kami tahan sebagai jaminan keamanan hingga kami dapat selesai dengan Muhammad; karena kami takut jika perang ini berlanjut terhadap kamu dan kamu sangat menderita. Kamu akan segera undur ke negerimu dan meninggalkan kami sementara orang itu ada di negeri kami, dan kami tidak dapat menghadapinya seorang diri”. Sudah tentu, jawaban ini hanya menjadi sebuah konfirmasi bagi orang Quraysh kecurigaan yang telah ditimbulkan Nu’aym, dan mereka dengan tegas menolak untuk mengirimkan sandera. Saat itu juga ada angin yang sangat kencang sehingga sulit bagi orang Quraysh untuk menjaga agar tenda-tenda mereka tetap berdiri atau api mereka tetap menyala.

Abu Sufyan merasa semua itu sudah cukup. Ia berkata kepada orang-orangnya: “Wahai orang Quraysh, kita tidak berada dalam tenda-tenda permanen; kuda-kuda dan unta-unta sekarat; Bani Qurayzah telah mengingkari janji mereka pada kita dan kita telah mendengar laporan-laporan yang tidak menyenangkan mengenai mereka. Kalian dapat melihat kencangnya angin sehingga kita tidak mempunyai tungku yang menyala maupun perapian, juga tidak ada tenda yang dapat dihitung. Bubarlah, karena aku akan pergi!”(14) Orang Quraysh mulai meninggalkan posisi mereka di sekeliling Medina, dan tidak lama kemudian diikuti oleh orang Ghafatan. Tipu daya Nu’aym telah membubarkan pengepungan dan menyelamatkan Islam.

Urusan dengan Bani Qurayzah

Setelah berhasilnya resolusi pada Perang Parit, malaikat Jibril meyakinkan bahwa Muhammad telah menyelesaikan urusan dengan orang Yahudi Qurayzah. Menurut Aisha, “Ketika Utusan Allah kembali pada hari (perang) Al-Khandaq (Parit), ia meletakkan senjatanya dan mandi. Kemudian Jibril yang kepalanya tertutup debu, datang padanya dan berkata,’Engkau telah meletakkan senjatamu! Demi Allah, aku belum meletakkan senjataku’. Utusan Allah berkata, ‘(Sekarang) pergi kemana?’ Jibril berkata,’Lewat sini’, sambil menunjuk ke arah Bani Qurayzah. Lalu Utusan Allah pergi kepada mereka”.(15)

Ketika pasukannya mendekati benteng Qurayzah, Muhammad menyapa mereka dengan perkataan yang biasa digunakan para jihadis Islam ketika mereka berbicara mengenai orang Yahudi pada masa kini – perkataan yang juga ada di dalam Qur’an: “Wahai saudara-saudara monyet, apakah Tuhan telah mempermalukan kamu dan membawa pembalasan-Nya ke atasmu?” Qur’an di tiga tempat (Sura 2:62-65, 5:59-60, dan 7:166) mengatakan bahwa Allah mengubah orang-orang Yahudi yang melecehkan Sabat menjadi babi dan monyet.

Orang Yahudi Qurayzah mencoba menenangkan murkanya dengan berkata: “Wahai Abu’l-Qasim [Muhammad], engkau bukanlah seorang yang biadab”. Tetapi nabi Islam sedang tidak berminat untuk dihibur. Ia berkata kepada orang-orang Muslim yang ada bersamanya bahwa seorang pejuang yang lewat dengan mengendarai lembu putih sebenarnya adalah Jibril, “yang telah diutus kepada Bani Qurayzah untuk mengguncangkan istana-istana mereka dan menebar teror ke dalam hati mereka”. Orang-orang Muslim mengepung pertahanan orang Qurayzah selama 25 hari, hingga, menurut Ibn Ishaq, “mereka merasa sangat tertekan” dan seperti yang dikatakan Muhammad, “Tuhan memberi teror ke dalam hati mereka”.(16)

Juga menebar teror ke dalam hati mereka telah menjadi pilihan yang diberikan pada mereka oleh pemimpin mereka sendiri Ka’b bin Asad, yang telah membuat dan memutuskan perjanjian dengan Muhammad. Pertama adalah untuk menerima Muhammad dan Islam, “Karena demi Tuhan sudah jelas bagimu bahwa ia adalah seorang nabi yang telah diutus dan bahwa dialah yang kamu temukan disebutkan dalam kitab-kitab sucimu; dan kemudian hidupmu, harta milikmu, kaum wanita dan anak-anakmu akan diselamatkan”.(17) Pilihan kedua adalah membunuh para istri dan anak-anak mereka, “tidak meninggalkan beban di belakang kita”, dan pergi memerangi Muhammad. Pilihan ketiga adalah menjebak nabi pada hari Sabat. Orang Qurayzah menolak semua pilihan itu, dan memilih untuk menyerah kepada orang-orang Muslim.

Setelah beberapa pertimbangan Muhammad memutuskan untuk meletakkan nasib suku itu ke tangan pejuang Muslim yang bernama Sa’d bin Mu’adh. Sa’d adalah seorang anggota suku Aw yang sebelumnya telah membuat kesepakatan dengan orang-orang Yahudi Medina, jadi barangkali Muhammad berpikir bahwa orang Qurayzah akan menerima penilaiannya sebagai yang bersifat imparsial, atau setidaknya terlihat demikian oleh para pengikut nabi Islam yang dapat saja mempertanyakan kepemimpinannya karena adanya hubungan yang erat antara orang-orang Muslim dengan orang-orang Yahudi Medina. Ketika Sa’d mengendarai keledainya, Muhammad mengatakan padanya, “Orang-orang ini sudah siap menerima keputusanmu”.

Sa’d menjawab, “Aku memutuskan para pejuang mereka harus dibunuh dan anak-anak dan kaum wanita mereka dijadikan tawanan”.

Nabi Islam merasa puas. “Wahai Sa’d! Engkau telah mengambil keputusan diantara mereka (sama dengan) penghakiman Raja (Allah)”.(18) Ia mengkonfirmasi keputusan Sa’d sebagai keputusan Allah sendiri: “Engkau telah membuat keputusan sejalan dengan keputusan Allah di atas langit ketujuh”.(19) (Kemudian, ketika Sa’d wafat, Ibn Ishaq mencatat beberapa tradisi Muslim mula-mula menyebutkan bahwa tahta Allah berguncang).(20)

Perintah Sa’d dilaksanakan dengan bulat, dan Muhammad sendiri berpartisipasi dengan aktif. Menurut Ibn Ishaq, “Rasul pergi ke pasar Medina (yang masih menjadi pasar hingga saat ini) dan menggali parit-parit disana. Kemudian ia memanggil [orang-orang Qurayzah] dan memenggal kepala mereka di parit-parit itu hingga menjadi tumpukan”. Salah seorang Qurayzah yang adalah musuh bebuyutan Muhammad yang bernama Huyayy mengatakan: “Perintah Tuhan adalah benar. Sebuah kitab dan sebuah keputusan, dan pembantaian telah dituliskan terhadap anak-anak Israel”. Kemudian Muhammad memenggal kepalanya.

Berkenaan dengan keputusan Sa’d untuk membunuh para pria dan menawan para wanita dan anak-anak, salah-seorang tawanan, Attiyah al-Qurazy, menjelaskan bagaimana Muhammad menentukan siapa yang termasuk pria dan siapa yang tidak: “Aku berada di antara para tawanan Bani Qurayzah. Mereka (para sahabat) memeriksa kami, dan orang-orang yang telah tumbuh rambut kemaluannya dibunuh, dan yang belum tidak dibunuh. Aku berada di antara orang-orang yang belum tumbuh rambut kemaluannya”.(21)

Ibn Ishaq memperkirakan jumlah orang yang dibantai sekitar “600 atau 700 orang semuanya, walau ada yang memperkirakan hingga 800 sampai 900”.(22) Ibn Sa’d mengatakan, “Jumlah mereka antara 600-700”.(23) Ketika orang Qurayzah digiring kepada Muhammad dalam kelompok-kelompok, seseorang bertanya pada Ka’b bin Asad apa yang sedang terjadi. “Tidakkah kamu mengerti?” jawab pemimpin Qurayzah yang sedang cemas itu. “Tidakkah kau lihat bahwa orang-orang yang memanggil kita tidak pernah berhenti dan orang-orang yang dibawa pergi tidak pernah kembali? Demi Allah itu adalah kematian!”(24)

Pembantaian massal ini diceritakan dalam berbagai ahadith. Salah-satunya meringkaskan perbuatan Muhammad terhadap tiga suku Yahudi Medina: “Bani Nadir dan Bani Quraiza berperang (terhadap nabi yang melanggar perjanjian damai mereka), maka nabi membuang Bani An-Nadir dan mengijinkan Bani Quraiza untuk tinggal di tempat mereka (di Medina), tidak mengambil apa-apa dari mereka hingga mereka berperang lagi melawan nabi Islam. Kemudian ia membunuh pria-pria mereka dan membagi-bagikan para wanita mereka, anak-anak dan properti mereka diantara orang-orang Muslim, tetapi beberapa diantara mereka menemui nabi dan ia memberikan mereka keamanan, dan mereka memeluk Islam. Ia mengusir semua Yahudi dari Medina. Mereka adalah orang Yahudi Bani Qainuqa, suku dari ‘Abdullah bin Salam dan orang Yahudi Bani Haritha dan semua orang Yahudi Medina lainnya.”(25)

Allah juga memberikan sebuah wahyu sehubungan dengan pembantaian itu: “...dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan” (Sura 33:26). Dan Muhammad sekali lagi memberikan wahyu yang menghubungkan kemenangan itu dengan Allah sendiri (Sura 33:9-11).

Sementara itu ketenangan Muhammad dan keyakinannya kepada Allah ketika segala sesuatunya suram bagi orang Muslim membuatnya berdiri kokoh. Allah memberikannya sebuah wahyu, mengatakan kepada orang Muslim untuk meneladaninya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (Sura 33:21). Dengan memanfaatkan statusnya, Muhammad juga mendapatkan sebuah wahyu yang berisi nasehat Allah kepada orang Muslim agar tidak terlalu akrab dengan nabi mereka dan istri-istrinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diijinkan...apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir... ” (Sura 33:53).

Mencari-cari alasan untuk melakukan pembantaian

Pembantaian bani Qurayzah telah dipahami sebagai sesuatu yang sangat memalukan orang Islam. Berbagai apologis Muslim telah berusaha untuk menyangkali insiden itu dan sekaligus memperkecil jumlah korbannya. Seorang sarjana Islam, W. N. Arafat, menerbitkan sebuah artikel yang panjang pada tahun 1976 yang mengatakan bahwa pembantaian itu tidak pernah terjadi, terutama karena alasan anakronistik bahwa hal itu merupakan sebuah pelanggaran terhadap hukum Islam.(26) Ini lebih merupakan sebuah argumen yang janggal mengingat kenyataan bahwa Muhammad telah menyingkirkan prinsip-prinsipnya pada berbagai kesempatan lain, seperti dalam insiden ketika para perampoknya membunuh orang Quraysh dalam bulan suci, dan ketika berupaya menarik hati Zaynab bint Jahsh. Hal lainnya berkaitan dengan pengkhianatan bani Qurayzah yang membenarkan perkataan Sa’d dan persetujuan Muhammad terhadap hal itu. Yahiya Emerick, dalam biografinya tentang Muhammad mengatakan bahwa dalam hal keputusan Sa’d “Muhammad tidak campur-tangan karena ia telah menyerahkan haknya untuk memberikan keputusan.” Ia tidak mengulangi perkataan Muhammad yang menyetujui keputusan Sa’d sebagai keputusan Allah juga.(27)

Karen Armstrong berargumen bahwa “tidaklah tepat untuk menilai insiden itu dengan menggunakan standar yang berlaku pada abad 20” dan bahwa “pada awal abad ke-7, seorang pemimpin Arab tidak dapat diharapkan untuk menunjukkan kemurahan apapun kepada para pengkhianat seperti Qurayzah.”(28) Itu memang benar, tetapi Armstrong mengabaikan masalah yang lebih besar; seperti dalam semua insiden dalam hidup Muhammad, ia masih dijunjung oleh orang Muslim di seluruh dunia sebagai “teladan tingkah-laku yang sempurna” (Sura 33:21). Pada bulan Juli 2006, pasukan tentara Israel bersiap untuk bergerak ke Gaza oleh karena adanya penculikan seorang tentara Israel oleh Hamas, seorang penulis di forum British Muslim Internet mengatakan: “Saya sangat muak dengan anjing-anjing Israel yang kotor dan menjijikkan ini. Kiranya Allah mengutuk mereka dan menghancurkan mereka semua, dan kiranya mereka mengalami nasib yang sama dengan nasib Bani Qurayzah!”(29) Tidak seorangpun yang menuduhnya telah mempraktekkan teladan abad ke-7 pada masa kini.

Para wanita Bani Mustaliq

Kini Muhammad telah menjadi seorang penguasa besar di Medina, dan nabi Islam menikmati keuntungan ekonomi yang mendadak. Sebuah hadith mencatat bahwa “orang-orang biasa memberikan sebagian dari kurma mereka kepada nabi (sebagai hadiah), hingga ia menaklukkan Bani Quraiza dan bani Nadir, dan ia mulai mendapatkan kekaguman mereka.”(30) Tetapi para penantang konsolidasi kekuatannya atas seluruh Arab masih ada. Ia mendapat berita bahwa Bani al-Mustaliq, satu suku Arab yang dekat dengan orang Quraysh, sedang berkumpul untuk memerangi orang Muslim, maka ia memimpin orang-orang Muslim untuk pergi menyerang mereka. Dan Allah, menurut Ibn Ishaq, “mencerai-beraikan Bani al-Mustaliq dan membunuh beberapa orang diantara mereka dan memberikan pada rasul istri-istri mereka, anak-anak dan harta milik mereka sebagai rampasan perang.”(31)

Menurut seorang pejuang Muslim, Abu Sa’id al-Khadri, “ada beberapa wanita Arab yang sangat cantik” diantara para tawanan Bani Mustaliq. “Kami menginginkan mereka, karena kami menderita oleh karena istri-istri kami tidak ada, (tapi pada waktu yang sama) kami juga menginginkan tebusan untuk mereka.” Qur’an mengijinkan mereka untuk berhubungan seksual dengan budak-budak perempuan yang ditangkap dalam peperangan – “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu...” (Sura 4:24) – tetapi jika mereka berniat untuk menahan wanita-wanita itu sebagai budak, mereka tidak dapat memperoleh uang tebusan untuk wanita-wanita itu. “Jadi”, Abu Sa’-id menjelaskan, “kami memutuskan untuk berhubungan seksual dengan mereka tetapi dengan melakukan ‘azl – yaitu coitus interruptus.” Namun demikian, Muhammad mengatakan pada mereka bahwa hal itu tidak perlu: “Bukanlah soal jika kamu tidak melakukannya, karena setiap jiwa yang harus dilahirkan hingga Hari Kebangkitan akan dilahirkan.”(32) Pembuahan dan kelahiran tergantung pada Allah saja.

Dari perspektif abad 21 ini adalah aspek yang paling problematis dari status Muhammad sebagai “teladan tingkah-laku yang sempurna”: memperlakukan wanita sebagai hadiah perang, dengan mengabaikan kehendak mereka. Bahkan sebuah panduan kontemporer hukum Islam mengatakan bahwa ketika seorang wanita ditawan, “pernikahannya yang sebelumnya dibatalkan”.(33) Jika seorang pejuang jihad menahannya, ia tidak dapat mengatakan apa-apa mengenai hal itu. Jumlah wanita yang ditindas dengan hal ini selama pemerintahan Islam berabad-abad tidak dapat dihitung; dan bahkan hari ini, wanita sering diperlakukan sebagai komoditas di seluruh dunia Islam. Sudah tentu, fenomena ini telah termanifestasi dalam berbagai tingkatan dalam semua budaya dan kelompok masyarakat, tetapi dalam dunia Islam sangatlah sulit dihapuskan karena sanksi profetis yang diterimanya.

Muhammad berpartisipasi dalam penangkapan para tawanan wanita. Dan ia mendapatkan seorang istri dari antara Bani Mustaliq, namun dengan cara yang menyiratkan bahwa setidaknya kadang-kadang, pada suatu keadaan khusus, wanita itu seakan menyadari bahwa itu sudah takdirnya. Diantara para tawanan Bani Mustaliq ada seorang wanita yang sangat cantik bernama Juwayriya, yang oleh nabi Islam diberikan kepada salah seorang sepupunya, Thabit bin Qays bin al-Shammas. Juwayriya memandang hal ini sebagai sebuah penghinaan karena ia adalah putri dari pemimpin Mustaliq. Maka ia menemui Muhammad untuk memohon: “Engkau dapat melihat derajatku saat aku ditangkap. Aku telah diundi dan jatuh kepada Thabit atau sepupunya dan telah memberinya sejumlah uang tebusan dan aku datang padamu untuk meminta pertolongan atas masalah ini.”

Muhammad menjawab, “Apakah engkau menginginkan sesuatu yang lebih baik daripada hal itu? Aku akan membebaskan hutangmu dan menikahimu.” Pernikahannya dengan Juwayriya menjadikan Bani Mustaliq sebagai kerabat Muhammad; oleh karena itu pada hari ia menikahi wanita itu ratusan keluarga yang diperbudak orang-orang Muslim dibebaskan dari perbudakan.(34) Muhammad mengganti nama wanita itu; sebenarnya ia bernama Barra, yang berarti “saleh”. Nabi Islam berkata, “Aku tidak suka kalau disebutkan bahwa: Ia telah keluar dari Barra (Saleh).”(35)

Abdullah bin Ubayy dan soal mendoakan musuh

Tidak lama setelah perang ini, Abdullah bin Ubayy, orang Munafik yang telah mengusik nabi Islam dengan rencananya dan permohonannya untuk orang-orang Yahudi Bani Qaynuqa dan Nadir, mulai menantang Muhammad dengan lebih terbuka. Ia menghimbau orang Medina untuk bangkit melawan orang Muslim yang telah datang dari Mekkah dan mengusir mereka keluar dari kota mereka. “Tidak ada yang lebih pantas bagi kita dan orang-orang Quraysh yang mengembara,” katanya, “seperti kata pepatah kuno, ‘Jika engkau memberi makan pada anjing, ia akan memangsamu’. Demi Allah ketika kita kembali ke Medina orang-orang yang lebih kuat akan mengusir orang-orang yang lebih lemah.”(36) Tetapi ketika beberapa orang Muslim melaporkan hal ini kepada Muhammad, Abdullah bin Ubayy menyangkal bahwa ia pernah berkata seperti itu, dan nabi Islam mempercayainya. Namun demikian, Umar meragukan Abdullah bin Ubayy, dan menemui Muhammad dengan sebuah penawaran:“Ijinkanlah aku menggorok leher orang munafik ini.”

Muhammad menolak: “Tinggalkanlah dia, supaya jangan orang berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.”(37) Kemudian putra Abdullah menemui Muhammad dan menawarkan diri untuk membunuh ayahnya bagi Muhammad. Dengan itu orang muda ini berharap ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dilema membalas pembunuh ayahnya dengan membunuh orang yang disuruh Muhammad untuk mengakhiri hidup ayahnya:

“Aku telah mendengar bahwa engkau ingin membunuh Abdullah bin Ubayy oleh karena apa yang telah engkau dengar berkenaan dengannya. Jika engkau harus melakukannya, maka perintahkanlah aku untuk melakukannya dan aku akan membawakan kepalanya kepadamu, karena al-Khazraj mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai siapapun yang sedemikian berbakti kepada ayahnya selain daripada aku, dan aku takut jika engkau memerintahkan orang lain untuk membunuhnya maka jiwaku tidak akan mengijinkan aku melihat pembunuhnya itu berkeliaran diantara orang-orang dan aku akan membunuhnya. Itu seperti membunuh seorang beriman demi seorang yang tidak beriman, sehingga kemudian aku akan masuk neraka.”(38)

Sekali lagi, kesetiaan kepada Islam lebih kental daripada ikatan darah. Tetapi Muhammad menolak, dan berkata, “Tidak, namun marilah kita berurusan baik-baik dengannya dan memanfaatkan persahabatannya sementara ia bersama kita.”(39)

Kebaikan Muhammad tidak menggerakkan Abdullah bin Ubayy, yang terus mencari gara-gara dengan nabi Islam hingga ia wafat. Namun demikian Muhammad tidak pernah kapok dengannya, dan bahkan mendoakannya di kuburnya ketika ia meninggal. Umar, yang ada bersamanya, merasa sangat terusik: “Utusan Allah, apakah engkau akan berdoa untuk orang ini, sedangkan Allah telah melarang engkau mendoakannya?”

Muhammad menjawab dengan menafsirkan sebuah ayat dari Qur’an: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuhpuluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Sura 9:80). Ia mengatakan pada Umar bahwa Allah telah memberinya sebuah pilihan dengan mengatakan: “Apabila engkau meminta pengampunan bagi mereka, atau tidak...” sedangkan ia mengetahui bahwa 70 doa tidak akan menghasilkan apapun, ia telah berdoa (untuk mereka) melampaui 70.

Tetapi Allah mengakhiri kemurahan ini dengan sebuah wahyu yang baru: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (Sura 9:84).(40)

Setelah itu Muhammad berhenti berdoa di kubur orang-orang yang menentangnya.(41) Perlu diingat bahwa ketika Yahiya Emerick menceritakan tentang persoalan Muhammad dengan Abdullah bin Ubayy, ia menyimpulkan: “Tidak lama kemudian ia jatuh sakit, dan saat ia terbaring menjelang ajal, Muhammad mengunjunginya dan meminta Tuhan mengampuninya, dan mengatakan kepada sahabatnya itu bahwa ia berharap agar Tuhan mau melakukannya.”(42) Emerick tidak mengatakan apapun mengenai teguran ilahi yang diterima Muhammad oleh karena menunjukkan kemurahan setelah berdoa di kubur Abdullah.

Perjanjian Hudaybiyya

Namun sebuah prinsip penting lainnya dalam Islam dibentuk melalui Perjanjian Hudaybiyya dan peristiwa-peristiwa di seputar itu. Pada 628 M, Muhammad mendapatkan sebuah penglihatan dimana ia melakukan sebuah perjalanan ziarah ke Mekkah – yaitu sebuah kebiasaan pagan yang sangat diinginkannya untuk menjadi bagian dalam Islam, tetapi telah dicegah oleh kontrol orang Quraysh di Mekkah. Tetapi di saat ini ia mengarahkan orang Muslim untuk bersiap melakukan ziarah ke Mekkah, dan bergerak maju menuju ke kota itu dengan 1500 orang. Orang Quraysh menemuinya di luar kota, dan kedua belah pihak bersepakat untuk mengadakan gencatan senjata (hudna) selama 10 tahun, yaitu perjanjian Hudaybiyya.

Beberapa pemimpin Muslim tidak suka dengan prospek perjanjian sebuah gencatan senjata, Lagipula, mereka telah berhasil mengalahkan kepungan orang Quraysh di Medina dan sekarang mereka lebih kuat dari sebelumnya. Apakah mereka akan menegosiasikan kekuatan militer mereka hanya agar dapat melakukan ziarah? Umar yang penuh kemarahan menemui Abu Bakr dan berkata, “Bukankah ia Rasul Tuhan, dan bukankah kita adalah orang Muslim, dan bukankah mereka adalah penyembah berhala? Lalu mengapa kita harus menyetujui apa yang merendahkan agama kita?” Keduanya pergi menemui Muhammad, yang berusaha meyakinkan mereka: “Aku adalah hamba Tuhan dan rasul-Nya. Aku tidak akan melanggar perintah-Nya dan Ia tidak akan membuat aku menjadi pihak yang kalah.”(43)

Tetapi tentu saja perjanjian itu kelihatannya bukanlah dibuat demi keuntungan orang Muslim. Ketika tiba waktunya perjanjian itu ditulis, Muhammad memanggil Ali dan mengatakan padanya untuk menulis: “Demi nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang.” Tetapi juru runding Quraysh, Suhayl bin ‘Amr menghentikannya: “Aku tidak mengaku ini; tetapi tulislah ‘Demi nama-Mu, ya Allah.’” Muhammad mengatakan kepada Ali untuk menuliskan apa yang dikatakan Suhayl.

Tetapi Suhayl belumlah selesai. Ketika Muhammad memerintahkan Ali untuk melanjutkan menulis, “Inilah yang telah disepakati oleh Muhammad, Rasul Allah dengan Suhayl bin ‘Amr”, ia kembali memprotes. “Jika aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Tuhan”, kata Suhayl kepada Muhammad, “aku tidak akan pernah memerangimu. Tulislah namamu sendiri dan nama ayahmu.” Sekali lagi sang nabi Islam, dengan dibarengi meningkatnya kemarahan para pengikutnya, menyuruh Ali menulis dokumen itu sesuai keinginan Suhayl.

Perjanjian itu akhirnya disepakati dan berbunyi demikian:

“Inilah yang telah disepakati Muhammad bin abdullah dengan Suhayl bin ‘Amr: mereka telah bersepakat untuk tidak berperang selama 10 tahun agar orang-orang dapat merasa aman dan jauh dari kondisi kekerasan sehingga jika ada orang yang datang kepada Muhammad tanpa seijin walinya maka ia akan mengembalikannya kepada mereka; dan jika orang-orang Muhammad datang kepada orang Quraysh mereka tidak akan mengembalikannya kepadanya. Kami tidak akan menunjukkan permusuhan terhadap satu sama lain dan tidak akan ada maksud rahasia atau keraguan. Barangsiapa ingin masuk ke dalam sebuah ikatan dan perjanjian dengan Muhammad boleh melakukannya dan barangsiapa ingin masuk ke dalam ikatan dan perjanjian dengan orang Quraysh boleh melakukannya.”

Orang Quraysh menambahkan: “Kalian harus menyingkir dari kami pada tahun ini dan tidak memasuki Mekkah tanpa persetujuan kami, dan tahun depan kami akan mempersilahkan engkau dan sahabat-sahabatmu dapat memasukinya, dan tinggal disana selama 3 malam. Kamu boleh membawa senjata-senjata penunggang kuda, pedang di sarungnya. Kamu tidak boleh membawa lebih dari itu.”(44)

Muhammad telah mengejutkan para pengikutnya dengan menyetujui usulan yang nampaknya sangat merugikan orang Muslim: orang-orang yang meninggalkan Quraysh dan mencari perlindungan pada orang Muslim akan dikembalikan kepada orang Quraysh, sedangkan orang-orang yang meninggalkan Muslim dan mencari perlindungan pada orang Quraysh tidak dikembalikan kepada orang Muslim.

Perjanjian itu kemudian ditutup, Muhammad menegaskan bahwa orang-orang Muslim telah berkemenangan walaupun semuanya terlihat tidak demikian. Ia memberikan sebuah wahyu yang baru dari Allah: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Sura 48:1). Muhammad juga menyatakan bahwa “Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)-mu (agar kamu mensyukurinya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus” (Sura 48:20).

Jika ada pengikutnya yang masih bersikap skeptis, ketakutan mereka akan segera disingkirkan. Seorang wanita Quraysh, Umm Khultum, bergabung dengan orang-orang Muslim di Medina; kedua saudaranya menemui Muhammad, meminta agar mereka dikembalikan “sesuai dengan perjanjian antara dia dengan orang Quraysh di Hudaybiyya.”(45) Tetapi Muhammad menolak: Allah melarangnya. Ia memberikan wahyu yang baru kepada Muhammad: “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang kafir” (Sura 60:10).

Dengan menolak mengembalikan Umm Khulthum kepada orang Quraysh, Muhammad memutuskan perjanjian itu. Walaupun para apologis Muslim telah mengklaim sepanjang sejarah bahwa orang Quraysh-lah yang pertama-tama memutuskan perjanjian itu, insiden ini mengatakan kepada semua orang Quraysh bahwa orang-orang Muslim adalah orang yang suka melanggar perjanjian. Emerick mengatakan bahwa Muhammad mendasarkan kasusnya pada alasan yang licik dan halus: perjanjian itu mengatakan bahwa orang-orang Muslim akan mengembalikan pada orang Quraysh pria yang datang kepada mereka, bukan wanita.(46) Bahkan seandainya pun ini benar, tidak lama kemudian, Muhammad – seperti yang diakui Emerick – juga mulai menerima pria-pria dari Quraysh, maka ia benar-benar memutuskan perjanjian.(47) Cara memutuskan perjanjian seperti ini kemudian melahirkan prinsip bahwa tidak ada sesuatupun yang baik kecuali apa yang menguntungkan Islam. Jika sebuah perjanjian telah diingkari secara formal, para pemimpin Islam membuat sebuah aturan/prinsip bahwa secara umum gencatan-gencatan senjata hanya dapat berlaku untuk sementara waktu hingga 10 tahun, dan hanya dapat dilakukan untuk mengijinkan pasukan-pasukan Muslim yang telah menjadi lemah dengan tujuan agar dapat mengumpulkan kembali kekuatannya untuk kembali berperang dengan lebih efektif.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian akan menggambarkan implikasi-implikasi gelap dari episode ini.

Penyerangan di Khaybar

Allah telah menjanjikan orang-orang Muslim diuntungkan oleh Perjanjian Hudaybiyya dengan “banyak rampasan perang” (Sura 48:19). Boleh jadi untuk menggenapi janji ini, Muhammad memimpin mereka untuk menyerang oasis Khaybar, yang didiami oleh orang Yahudi – banyak diantara mereka adalah orang-orang yang dibuang dari Medina. Seorang Muslim kemudian mengingat: “Ketika Rasul hendak menyerang sekelompok orang ia akan menunggu hingga pagi tiba. Jika ia mendengar suara azan, ia menahan diri; jika ia tidak mendengar suara azan maka ia menyerang. Kami tiba di Khaybar pada malam hari, dan Rasul menghabiskan malam disana; dan ketika pagi tiba ia tidak mendengar suara azan, maka ia berkuda dan kami berkuda bersamanya...Kami berjumpa dengan para pekerja dari Khaybar yang menyongsong pagi dengan budak-budak hitam dan keranjang-keranjang mereka. Ketika mereka melihat Rasul dan tentaranya, mereka berteriak,’Muhammad dan pasukannya,’ dan lari tunggang-langgang. Rasul berkata, ‘Allahu Akbar! Khaybar telah dihancurkan. Ketika kami tiba di tengah-tengah mereka itu adalah pagi yang buruk bagi orang-orang yang telah mendapat peringatan.’”(48)

Orang Muslim bergerak maju dengan tidak tertahankan lagi. “Rasul”, menurut Ibn Ishaq, “menyita properti yang ada satu demi satu dan menaklukkan benteng-benteng satu demi satu ketika ia mendatangi semua itu.”(49) Ibn Ishaq melaporkan bahwa pertempuran itu sangat hebat: “para penyembah berhala itu ...membunuh sejumlah besar para sahabat (Muhammad) dan ia juga membunuh sejumlah besar diantara mereka...Ia membunuh 93 orang Yahudi ...”(50) Muhammad dan orang-orangnya menaikkan sembahyang subuh (fajr) sebelum hari menjadi terang dan kemudian memasuki Khaybar. Orang-orang Muslim segera mencari harta benda para penduduk disana. Kinana bin al-Rabi, seorang pemimpin Yahudi suku Khaybar yang dipercayai untuk memegang harta Bani Nadir dibawa ke hadapan Muhammad. Kinana menyangkal bahwa ia mengetahui dimana harta itu berada, tetapi Muhammad menekannya: “Tahukah kamu bahwa kalau kami menemukan kamu menyimpannya maka aku akan membunuhmu?” Kinana mengiyakan.

Sebagian harta itu ditemukan. Untuk mendapatkan sisanya, Muhammad memberikan perintah berkenaan dengan Kinana: “Siksa dia hingga kamu mendapatkan apa yang dimilikinya.” Seorang Muslim menyalakan api di dada Kinana, tapi Kinana tidak membuka rahasianya. Ketika ia hampir mati, Muhammad bin Maslama pembunuh Ka’b bin Al-Ashraf si penyair, memenggal kepalanya.(51)

Muhammad setuju membiarkan orang Khaybar dibuang, mengijinkan mereka, seperti yang dilakukannya pada Bani Nadir, untuk membawa harta mereka sebanyak yang dapat mereka bawa.(52) Namun demikian, ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan semua emas dan perak mereka.(53) Ia berniat untuk membuang mereka semua, namun beberapa orang yang adalah para petani, memohon kepadanya untuk mengijinkan mereka tetap tinggal jika mereka memberikan separuh hasil ladang mereka padanya setiap tahun.(54) Muhammad setuju: “aku akan mengijinkan kamu tetap tinggal disini menurut kehendak kami.”(55) Ia mengingatkan mereka: “Jika kami ingin membuang kalian, maka kami akan membuang kalian.”(56) Mereka tidak lagi mempunyai hak apapun diluar kebaikan dan kemurahan Muhammad dan orang-orang Muslim. Dan tentu saja, ketika orang-orang Muslim menemukan sejumlah harta yang telah disembunyikan oleh orang-orang Yahudi Khaybar, ia memerintahkan agar para wanita suku itu diperbudak dan menyita tanah orang-orang yang berbuat amoral.(57) Sebuah hadith mencatat bahwa “Nabi membunuh para pejuang mereka, keturunan dan para wanita mereka dijadikan tawanan.”(58)

Kemudian, selama pemerintahan Khalifah Umar (634-644), orang-orang Yahudi yang tetap tinggal di Khaybar dibuang ke Syria, dan sisa tanah mereka disita.(59)

Muhammad diracun

Seorang wanita Yahudi suku Khaybar, Zainab bint al-Harith, dibawa masuk untuk menyiapkan makan malam bagi Muhammad. Ia mmenyiapkan domba panggang – dan membubuhkan racun. Muhammad menggigit sepotong dan memuntahkannya, lalu berteriak, “Tulang ini mengatakan padaku bahwa ia telah diracun.” Orang yang menemaninya makan, Bishr bin al-Bara, telah memakannya dan tak lama kemudian ia meninggal. Zaynab bint al-Harith segera mengaku, menjelaskan kepada Muhammad: “Engkau tahu apa yang telah kau lakukan kepada kaumku. Aku berkata pada diriku sendiri, jika dia adalah raja aku akan merasa tenang karenanya dan jika ia adalah seorang nabi ia akan diberitahu (tentang apa yang telah kulakukan)”. Karena ia dengan tegas mengakui kenabian Muhammad, maka Muhammad membiarkan ia hidup.(60) Namun demikian, menurut sebuah tradisi lainnya, Muhammad membunuhnya.(61)

Racun itu mempengaruhinya; setelah itu seorang Muslim mengatakan, “Aku terus melihat dampak racun itu pada rongga atas bagian dalam mulut Utusan Allah”.(62) Di tempat tidurnya saat ia menjelang ajal, tiga tahun setelah ia diracun, Muhammad berkata pada saudara perempuan Bishr, “Inilah saatnya aku merasakan sakit yang mematikan oleh karena makanan yang kumakan dengan abangmu di Khaybar”.(63) Dan ia juga berteriak pada Aisha: “Wahai Aisha! Aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan di Khaybar, dan saat ini, aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu”.(64)

Tradisi lainnya mengemukakan bahwa upaya peracunan itu bukanlah pekerjaan satu orang wanita, tetapi persekongkolan orang-orang Yahudi, yang sekali lagi digambarkan sebagai pembohong dan penipu. Berdasarkan versi ini, setelah penaklukkan Khaybar, orang-orang Yahudi memberikan hadiah kepada Muhammad berupa domba panggang yang telah diracun. Muhammad, yang mendapat firasat akan rencana ini, memerintahkan: “Biarlah semua orang Yahudi yang sudah ada disini berkumpul di hadapanku”. Ketika ini telah dilakukan, Muhammad berkata: “Aku ingin memberi sebuah pertanyaan kepada kalian. Apakah kalian akan mengatakan yang sebenarnya?” Setelah mereka mengiyakan, ia bertanya pada mereka: “Siapakah bapamu?” Mendengar jawaban mereka (yang tidak dicatat dalam tradisi), nabi Islam mengatakan, “Kalian sudah berbohong”, dan memberikan pada mereka jawaban yang benar.

Orang-orang Yahudi itu mengakui bahwa Muhammad benar. Kemudian ia bertanya pada mereka: “Sekarang apakah kalian akan mengatakan yang sebenarnya jika aku menanyakan sesuatu?” Sekali lagi setelah mereka mengiyakan, Muhammad bertanya, “Siapakah yang akan masuk ke dalam neraka?”

Menurut hadith mereka menjawab: “Kami akan tinggal di dalam api (neraka) untuk sejangka waktu yang pendek, dan setelah itu engkau akan menggantikan kami”.

Muhammad tidak terima dengan jawaban itu: “Kalian akan dikutuk dan dihina di dalamnya! Demi Allah, kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya”. Dan lagi: “Akankah kalian mengatakan kebenaran jika aku menanyakan sesuatu?” Setelah menerima jaminan bahwa mereka akan berkata jujur, Muhammad bertanya: “Apakah kalian telah meracuni domba ini?”

Mereka mengakui bahwa benar mereka telah membubuhi racun. Ketika ditanya mengapa, mereka menjawab seperti jawaban Zainab bint al-Harith: “kami ingin mengetahui apakah engkau adalah seorang pembohong yang tidak dapat kami singkirkan, dan jika engkau adalah seorang nabi maka racun itu tidak akan membahayakanmu”.(65)

Rampasan perang Khaybar

Dengan ditaklukkannya Khaybar, tiba saatnya untuk membagi rampasan perang. Aisha mengingat saat orang-orang Muslim memasuki oasis Khaybar, mereka berseru, “sekarang kita akan pesta kurma!”(66)

Seorang pejuang Muslim, Dihya bin Khalifa, menemui Muhammad dan berkata,”Wahai nabi Allah! Berikanlah aku seorang budak wanita dari antara para tawanan”. Nabi Islam setuju, dan berkata pada Dihya: “Pergilah dan ambillah budak perempuan yang mana saja”. Dihya memilih seorang wanita bernama Safiyya bint Huyay.(67) Safiyya adalah putri dari Huyayy bin Akhtab, yang telah menyebabkan Bani Qurayzah memutuskan kesepakatan mereka dengan Muhammad. Muhammad telah membunuh Huyayy dan juga orang-orang Qurayzah. Suami Safiyya adalah Kinana ibn Rabi, yang baru saja disiksa dan dibunuh oleh para pejuang jihad. Setelah ia ditangkap, ia mempesona para pejuang Islam, yang mengatakan pada nabi mereka: “Belum pernah kami melihat wanita seperti dia diantara para tawanan perang”.(68) Seseorang menambahkan: “Wahai Utusan Allah! Engkau memberikan Safiyya bint Huyayy kepada Dihya sedangkan ia adalah putri dari semua putri suku Qurayza dan An-Nadir, ia tidak cocok dengan siapapun selain denganmu”.(69)

Oleh karena itu Muhammad memanggil Dihya dan Safiyya. Ketika nabi Islam melihat Safiyya, ia berkata kepada Dihya: “Ambillah budak perempuan mana saja dari antara para tawanan kecuali dia”. Kemudian Muhammad segera membebaskannya dan menikahinya – oleh karena ia setuju untuk memeluk Islam, posisinya menjadi lebih tinggi daripada budak. Malam itu Safiyya mengenakan baju pengantin dan pesta pernikahan segera digelar. Ketika meninggalkan Khaybar malam itu, Muhammad menghentikan karavannya segera setelah mereka berada di luar oasis, mendirikan tenda, dan menikmati malam pengantin.(70) Perasaan dan pergumulan Safiyya dari yang awalnya adalah istri seorang pemimpin Yahudi, menjadi janda, ditawan, lalu menjadi istri dari nabi Islam hanya dalam waktu sehari tentu saja tidak dicatat.

Khaybar telah menjadi peringatan untuk para jihadis di jaman modern ini. Teriakan yang populer diantara orang-orang Palestina dan sekutu-sekutunya adalah: “Khaybar, Khaybar, wahai Yahudi, pasukan Muhammad akan kembali”.(71) Itu berarti penghancuran negara Israel, sama seperti benteng pertahanan Yahudi di Khaybar dihancurkan.

Catatan Kaki

1. Ibn Ishaq, 450.

2. Ibid., 452.

3. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari, The History of al-Tabari, Volume VIII, The Victory of Islam, Michael Fishbein, translator, (New York: State University of New York Press, 19970, 11.

4. Ibn Ishaq, 452.

5. Tabari, vol. VIII, 12.

6. Ibn Ishaq, 452.

7. Tabari, vol. VIII, 15.

8. Ibid., 16.

9. Ibn Ishaq, 454.

10. Tabari, vol. VIII, 17-18.

11. Ibn Ishaq, 455.

12. Ibn Ishaq, 458; cf. Bukhari, vol. 4, book 56, no. 3030; Muslim, book 32, no. 6303.

13. Ibn Ishaq, 459.

14. Ibid., 460.

15. Bukhari, vol. 4, book 56, no. 2813.

16. Ibn Ishaq, 461.

17. Ibid., 462.

18. Bukhari, vol. 4, book 56, no. 3043.

19. Ibn Sa’d, vol II, 93; cf. Ibn Ishaq, 464.

20. Ibn Ishaq, 468-469.

21. Abu-Dawud Sulaiman bin Al-Aash’ath Al-Azdi as-Sijistani, Sunan abu-Dawud, Ahmad Hasan, translator, Kitab Bhavan, 1990. Book 38, no. 4390.

22. Ibn Ishaq, 464.

23. Ibn Sa’d, vol. II, 93.

24. Ibn Ishaq, 464.

25. Bukhari, vol. 5, book 64, no. 4028.

26. W.N. Arafat, “New Light on the Story of Banu Qurayza and the Jews of Medina, “Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, 1976, 100-107.

27. Emerick, 226.

28. Armstrong, 207-208.

29. Yaakov Lappin, “UK Islamist: Make Jihad on Israel,” YNet News, July 2, 2006.

30. Bukhari, vol. 4, book 57, no. 3128.

31. Ibn Ishaq, 490.

32. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7409.

33. Ahmed ibn naqib al-Misri, Reliance of the Traveller [‘Umdat al-Salik]: A Classic Manual of Islamic Sacred Law, translated by Nuh Ha Mim Keller. Amana Publication, 1999, o9.13.

34. Ibn Ishaq, 491.

35. Muslim, book 25, no. 5334. Other ahadith say that another of Muhammad’s wives, zaynab, was the one who was originally named Barra.

36. Ibn Ishaq, 491.

37. Muslim, book 32, no. 6255.

38. Ibn Ishaq, 492.

39. Ibn Ishaq, 492.

40. Muslim, book 38, no. 6680.

41. Muslim, book 38, no. 6681.

42. Emerick, 233.

43. Ibn Ishaq, 504.

44. Ibid., 504.

45. Ibid.

46. Ibn ishaq, 509.

47. Emerick, 239.

48. Ibn Ishaq, 511.

49. Ibid.

50. Ibn Sa’d, vol. II, 132-133.

51. Ibn Ishaq, 515.

52. Ibn Sa’d, vol. II, 136.

53. Ibn sa’d, vol. II, 137.

54. Bukhari, vol. 4, book 57, no. 3152.

55. Muslim, book 10, no. 3761.

56. Ibn Ishaq, 515.

57. Ibn Sa’d, vol. II, 137.

58. Bukhari, vol. 5, book 64, no. 4200.

59. Ibn Sa’d, vol. II, 142.

60. Ibn Ishaq, 516.

61. Ibn Sa’d, vol. II, 249.

62. Bukhari, vol. 3, book 51, no. 2617.

63. Ibn Ishaq, 516.

64. Bukhari, vol. 5, book 64, no. 4428.

65. Bukhari, vol. 4, book 58, no. 3169; cf. Ibn Sa’d, vol. II, 144.

66. Bukhari, vol. 5, book 64, no. 4242.

67. Bukhari, vol. 1, book 8, no. 371.

68. Muslim, book 8, no. 3329.

69. Bukhari, vol. 1, book 8, no. 371.

70. Ibid.

71. Muhammd Al-Munajjid, “The true nature of the enmity between the Muslims and the Jews,” Al-Minbar.com,

http://www.alminbar.com/khutbaheng/9022.htm; Steven Emerson, “Prepared Statement of Steven Emerson Before The Senate Judiciary Committee Subcommittee on Terrorism, Technology and Government Information,” February 24, 1998.

Http://www.geocities.com/CollegePark/6453/emerson.html.

2 comments:

  1. hahaha...Muhammad itu seorang manusia juga sama seperti kalian...dia cuma utusan Allah.

    Kutipan blog ini cuma mencari-cari kekurangannya, kemudian disambung dengan ide serta pemikiran yang dangkal...

    Untuk apa tujuan dan orang yang membuat blok ini, tak lain hanya :
    1. Orang yang tak beragama (akankah ia mengorek-ngorek ajaran/agama lain?)
    2. Orang beragama selain muslim (dengan tujuan agar ajaranya mendominasi?)

    haha... Kalo blog ini ga ada yang bener sama sekali..sieh bakal gue Blok/penyalah gunaan
    hehe... Tapi biarlah kan Tuhan yang mengatur...^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa lalu itu benar-benar rahasia.
      Kecuali hal tersebut dikaruniakan kepada orang-orang yang bijaksana.
      Didunia ini sudah di tetapkan siapa kambing dan siapa domba.
      Kita yang sabar.
      Setiap orang harus bersabar.
      Karena di akhir zaman Allah akan tampil untuk menghakimi umat manusia dan menegakkan kebenaran yang sejati.
      Salam santai

      Delete