Tuesday, February 23, 2010

Bab 4 - SUMBER WAHYU-WAHYU MUHAMMAD

· Islam meminjam dari Yudaisme, Kekristenan dan Zoroastrianisme
· Tanggapan Muhammad yang penuh kemarahan atas tudingan bahwa ia meminjam materi
· Hal-hal tambahan untuk kenabian: wahyu-wahyu yang menenteramkan
· Efek negatif terhadap kaum wanita dan yang lainnya oleh karena wahyu-wahyu yang menenteramkan
· Apologetika Islam berusaha untuk menjelaskan tulisan-tulisan yang menggusarkan dalam tradisi Islam.

MEMINJAM DARI YUDAISME
Salah-satu tantangan yang terberat terhadap klaim Muhammad sebagai seorang nabi, baik selama 23 tahun karirnya dan di sepanjang sejarah Islam, adalah ketergantungannya yang sangat jelas terlihat pada Yahudi, Kristen dan sumber-sumber lainnya.

Banyak pengamat di sepanjang sejarah telah memperhatikan banyak kesamaan antara Islam dan Yudaisme, termasuk monoteisme “murni”, urutan nabi-nabi, proliferasi hukum, arah kiblat ke kota suci saat bersembahyang, dan banyak lagi. Tidak diragukan lagi Muhammad mempunyai kontak yang ekstensif sebagai seorang pedagang muda, demikian pula saat ia menjadi nabi, dengan suku-suku Yahudi yang kuat di dalam dan di sekitar kota Mekkah. Muhammad menghormati mereka dan berusaha mendapat restu mereka untuk misi profetisnya.

Pada kenyataannya, Muhammad menempatkan dirinya sendiri setara di dalam sejarah keselamatan orang Yahudi. Dalam rekaan Qur’an, Muham-mad adalah nabi yang terakhir dan terbesar di sepanjang jajaran para nabi yang juga terdapat dalam Alkitab dan yang lainnya.
Setelah Setan menipu Adam dan Hawa sehingga berpaling dari kebenaran (sebuah kisah yang langsung dikutip dari Kitab Kejadian, dengan modifikasi-modifikasi dan penambahan-penambahan penting), Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk memanggil umat-Nya agar kembali kepada penyembahan yang benar. Beberapa bagian dalam Qur’an mendaftarkan figur para nabi, baik yang tercantum dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen:...(Sura 6:84-86). Allah menambahkan Muhammad ke dalam bilangan ini:...(Sura 4:163).

Bersama dengan para nabi Alkitab, Qur’an penuh dengan kisah-kisah dari Alkitab. Sura ke-12 menceritakan kisah Yusuf dan saudara-saudaranya, walaupun ...signifikansi Israel sebagai sebuah bangsa.

Bahtera Nuh muncul dalam Sura 10; Yunus dan ikan pausnya dalam Sura 37. Figur Musa sangat mewarnai keseluruhan kitab – terutama dalam satu seri kisah alegoris dalam Sura 18. Kita dapat berharap, jika Muhammad sedang berusaha untuk mempresentasikan dirinya sebagai salah satu nabi dalam jajaran para nabi dalam Alkitab, maka ia akan mengulang sedikitnya beberapa materi Alkitab. Tetapi beberapa kisah dan detil dalam Qur’an mengenai karakter-karakter Alkitab sebenarnya berasal dari sumber-sumber di luar Alkitab itu sendiri – terutama, Talmud.

Tulisan-tulisan Talmud, yang dikompilasi pada abad ke-2 M,beredar di kalangan orang Yahudi di Arab pada jaman Muhammad, dan beberapa perbedaan dan penambahannya terhadap catatan-catatan Alkitab dimuat di dalam Qur’an. Dalam versi Qur’’an mengenai “kisah 2 anak-anak Adam” (Sura 5:27), Kain dan Habel, Allah mengirimkan kepada Kain seekor gagak untuk menunjukkan padanya apa yang harus dilakukannya dengan tubuh saudaranya: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkatalah Kabil: “Aduhai celakalah aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (Sura 5:31)

Gagak ini tidak ada dalam catatan kitab Kejadian mengenai Kain-Habel, tetapi ada di dalam beberapa dokumen para rabbi Yahudi,termasuk Pirqe de-Rabbi Eliezer, penciptaan kembali sejarah Alkitab dari penciptaan hingga perjalanan orang Israel di padang gurun. Para apologis Islam mengemukakan bahwa Pirqe de-Rabbi Eliezer dalam bentuk yang ada sekarang berasal dari abad ke-8 atau 9 M, seperti juga beberapa tulisan lain yang mencantumkan kisah tentang gagak tersebut – maka sangatlah mungkin bahwa para rabbi sebenarnya meminjam dari Muhammad.

Namun demikian, ayat berikutnya dalam Qur’an – yang merupakan ayat yang paling dihormati dan sering dikutip di seluruh kitab tersebut, setidaknya di negara-negara Barat dewasa ini – lebih memperjelas arah peminjaman. Sura 5:32 berkata: “Oleh karena itu Kami tetapkan satu hukum bagi bani Israel, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu orang lain, atau bukan karena orang itu membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya....”

Tidak ada alasan yang pasti mengapa statement terhadap pembunuhan ini mengikuti kisah Kain dan Habel, ketika pembunuhan yang dilakukan Kain terhadap Habel tidak membahayakan suatu umat. Hubungan itupun tidak jelas dari konteks. Namun dalam Talmud jelas bahwa:
“Kami mendapati bahwa dalam kasus Kain yang membunuh saudaranya: “Dan Dia berfirman, “Apa yang telah engkau perbuat? Suara darah adikmu berseru kepada-Ku dari tanah” (Kej.4:10). Tidak dikatakan di sini bahwa darah itu dalam bentuk tunggal, tetapi dalam bentuk jamak, yaitu darahnya sendiri dan darah keturunannya. Manusia diciptakan tunggal/sendiri untuk menunjuk-kan bahwa barangsiapa membunuh seorang individu maka akan diperhitungkan padanya bahwa ia telah membunuh sebuah umat, tetapi barangsiapa yang memelihara hidup seorang individu maka ia dipandang telah memelihara hidup suatu umat.’”1

Di sini hubungan antara pembunuhan Habel dan juga seluruh umat manusia berasal dari penafsiran jamak terhadap kata “darah” (“bloods”, Inggris) dalam Kejadian 4:10. Berkaitan dengan hubungannya dengan sebuah ayat Alkitab, koneksi ini sebagaimana kemunculannya dalam Qur’an menyampaikan kepada banyak pembaca selama berabad-abad bahwa penulis atau para penyusun Qur’an bergantung kepada sumber Yahudi.

Demikian pula, di dalam Qur’an, Bapa Abraham menghancurkan beberapa berhala yang disembah oleh bapanya dan umatnya. Dengan penuh kemarahan, kaumnya melemparkannya ke dalam api, namun Allah mendinginkan api itu dan menyelamatkan Abraham: “Mereka berkata:
“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (Sura 21:68-69).

Kisah mengenai Abraham yang dibuang ke dalam api muncul dalam Talmud – Midrash Genesis Rabbah, yang dikompilasi pada abad ke-6 M. 2

“KISAH-KISAH KUNO”
Masih ada banyak gema semacam itu di dalam Qur’an, dan berbagai versi kisah-kisah ini tidak dikenal banyak orang. Beberapa diantaranya dicatat dalam Qur’an: “Dan ingatlah ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul Al Quran ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Sura 8:31). “Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan dari orang-orang dahulu kala” (Sura 23:83).

Allah menanggapi tuduhan ini secara langsung di dalam Qur’an: “Dan orang-orang kafir berkata, Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakah oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Sura 25:4-6). Para pencemooh Muhammad membuat tuduhan ini dari kekerasan hati mereka: “Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkan bacaanmu, padahal kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (Sura 6:25)

Muhammad bereaksi dengan kemarahan kepada orang yang membuat tuduhan-tuduhan ini. Dalam sebuah wahyu, Allah mengemukakan bahwa orang itu adalah anak haram dan berjanji untuk membuat cap di hidung mereka. (Sura 68:10-16) 3

Muhammad dengan teguh menegaskan kepastian bahwa pembaca yang berpikiran terbuka akan menemukan nubuatan-nubuatan mengenai kedatangannya dalam Kitab Suci Para Ahli Kitab – yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen: “Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul”. Katakanlah “ Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan diantara orang yang mempunyai ilmu Alkitab” (Sura 13:43). Orang Yahudi dan Kristen yang sejati akan menjadi orang Muslim: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Alkitab sebelum Al Quran, mereka beriman pula dengan Al Quran itu” (Sura 28:52).

Mereka yang tidak bertobat kepada Islam harus diingatkan bahwa orang Muslim, Yahudi dan Kristen menyembah Tuhan yang sama (Sura 29:46).

Allah bahkan mengatakan kepada Muhammad agar berkonsultasi pada orang Yahudi dan orang Kristen jika ia mempunyai keraguan terhadap kebenaran dari apa yang telah diterimanya: ”Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu....” (Sura 10:94).

Hanyalah ketegaran Para Ahli Kitablah yang membuat mereka tidak mengakui Muhammad dan kesejatian Qur’an. Dan pada puncaknya, ketegaran mereka itu membuat Muhammad berbalik memusuhi mereka, dan memproklamasikan bahwa komunitasnya yang baru adalah pemimpin mereka – dan juga pemimpin semua kaum lainnya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (3:110).

Keyakinan bahwa mereka adalah “umat yang terbaik”, dan juga kecurigaan Para Ahli Kitab sudah tidak asing lagi di kalangan orang Muslim di seluruh dunia bahkan hingga hari ini. Ketidaksetaraan sosial dan ketidakadilan dituduhkan kepada orang kafir; dan para jihadis di seluruh dunia mengemukakan bahwa hanya dengan menerapkan Islam secara keras maka orang Muslim akan tetap menjadi “umat yang terbaik”.

MEMINJAM DARI KEKRISTENAN
Dalam beberapa varian catatan Waraqa bin Naufal mengenai Muhammad sebagai Nabi, Waraqa menulis Injil tidak dalam bahasa Ibrani, namun dalam bahasa Arab.4 Tujuan dari varian-varian itu boleh jadi untuk menjauhkan Waraqa dari orang Yahudi, yang beberapa diantara mereka itu (dituduhkan) mengajari Qur’an kepada Muhammad. Allah sendiri menjawab tuduhan ini di dalam Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (Sura 16:103)

Orang asing itu boleh jadi adalah orang lain lagi; lagipula, Waraqa bukanlah orang Yahudi terpelajar, Kristen, atau penyembah berhala yang mempunyai hubungan dengan Muhammad. Yang lainnya adalah seorang tokoh misterius yang penting dalam Islam mula-mula, yaitu Salman orang Persia. Kata “asing” dalam bahasa Arab dalam Sura 16:103 diterjemahkan dengan Ajami, yang berarti orang Persia atau orang Iran. Ketegaran Qur’an yang berulangkali bahwa kata itu adalah kata Arab malah akan memunculkan kecurigaan bahwa pengaruh asing (atau Persia). Lalu ada figur tak bernama, yang menurut Hadith, “adalah seorang Kristen yang memeluk Islam dan membaca Surat-al-Baqarah (Sura ke-2 dalam Qur’an) dan Al-Imran (Sura 3), dan ia biasa menulis (wahyu-wahyu) untuk Nabi.”

Dengan perkataan lain, ia biasa menuliskan bacaan-bacaan Qur’an Muhammad. Namun pengalaman ini kemudian membuat ia ragu bahwa wahyu-wahyu itu diinspirasikan secara ilahi, karena “kemudian ia kembali kepada kekristenan dan ia suka berkata: ‘Muhammad tidak tahu apa-apa selain dari apa yang saya tulis untuknya.’” Tradisi itu menyebutkan bahwa dosa orang ini sangatlah besar sehingga setelah ia meninggal, bumi bahkan tidak mau menerima tubuhnya, dan setelah kaumnya membuat beberapa usaha untuk menguburkannya namun bumi tetap menolaknya, mereka akhirnya menyerah. 5

Bahwa misi profetis Muhammad dikonfirmasi oleh seorang petobat Kristen dari Yudaisme telah menjadi hal yang memalukan orang Muslim, dan beberapa sumber Muslim telah menyangkal bahwa Waraqa adalah seorang Kristen. Sementara itu, beberapa sarjana modern mengemukakan bahwa Waraqa sebenarnya menolak Muhammad, dan bahwa teks versi Ibn Hisham mengenai Sira kemudian telah dipalsukan.

Mereka mengemukakan bahwa tidak ada catatan dalam banyak hadith mengenai pertobatan Waraqa kepada Islam atau detil-detil kematiannya. Lagipula, pertobatan seorang imam Kristen, sepupu Muhammad dan istrinya, pastilah suatu peristiwa yang sangat penting. Namun demikian, tidak diragukan lagi bahwa arus utama Islam menerima bahwa Waraqa mengakui status kenabian Muhammad, bahwa Waraqa bertobat kepada Islam, dan bahwa Alkitab – setidaknya dalam keadaan aslinya yang belum dipalsukan – menubuatkan kedatangan Muhammad.

Walau demikian, kecurigaan bahwa Waraqa mengajari Muhammad bagian-bagian yang penting dari apa yang dikemukakan Muhammad sebagai wahyu ilahi dalam Qur’an, telah menghantui Islam. Selama berabad-abad tidak ada cara untuk memastikan hubungan apa antara Muhammad dan Waraqa, demikian pula apakah sepupu istrinya itu adalah sumber apa-apa untuknya. Namun demikian, yang tidak diragukan lagi dan yang menarik adalah bahwa Qur’an menggunakan sumber-sumber Yahudi dan Kristen dan bahwa beberapa “kisah kuno” yang mendapatkan cara untuk masuk ke dalam Qur’an bukanlah berasal dari Injil kanonis tetapi dari sumber-sumber lain – yaitu sumber-sumber yang sangat mungkin ditemui Muhamad di Arabia,
dimana ada dominasi bidat-bidat Kristen.

Yesus di dalam Qur’an, walau tidak ilahi, adalah seorang pembuat mujizat yang sangat berkuasa. Ia bahkan berbicara dalam ayunan-Nya: “Dan Dia berbicara kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan Dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (Sura 3:46). Mengetahui hal ini, Maria mengarahkan mereka yang meragukan kesuciannya untuk bertanya pada Sang Bayi saat mereka melihat-Nya: “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami bisa berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa, “Sesungguhnya Aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiKu Alkitab (Injil), dan Dia menjadikan Aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan Aku seorang yang diberkati dimana saja Aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaKu (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Dan berbakti kepada ibuKu, dan Dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal, dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali.” (Sura 19:29-33)

Dalam sebuah Injil Arab mengenai kanak-kanak Yesus dari abad ke-6: “Yesus berbicara, dan sesungguhnya ketika Ia berbaring di ayunan Ia berkata kepada Maria ibunya: ‘Akulah Yesus, Putra Tuhan, Sang Logos (= Firman), yang telah engkau lahirkan, seperti yang disampaikan malaikat Gabriel kepadamu; dan Bapa-Ku telah mengutus Aku bagi keselamatan dunia.’” 6

Dalam Injil tersebut ada kisah berikut: “Maka, ketika Tuhan Yesus telah berusia 7 tahun, pada suatu hari Ia sedang bermain dengan teman-teman sebaya-Nya. Mereka bermain dengan tanah liat, yang mereka buat patung-patung keledai, lembu, burung dan binatang-binatang lain; dan mereka masing-masing menyombongkan kemampuannya, memuji-muji hasil karya masing-masing. Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada anak-anak laki-laki itu: ‘Patung-patung yang telah Kubuat akan Aku perintahkan untuk berjalan. Mereka bertanya pada-Nya apakah Ia adalah Putra Sang Pencipta; dan Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk berjalan dan mereka segera mulai melompat; dan kemudian ketika Ia memberikan mereka perintah, mereka kembali mematung. Dan Ia membuat patung burung yang dapat terbang setelah diperintahkan-Nya untuk terbang, dan kembali mematung ketika Ia memerintahkan mereka berdiam, dan makan minum ketika Ia memberi mereka makanan dan minuman. Setelah anak-anak laki-laki itu pergi dan menceritakan hal ini pada orang-tua mereka, ayah-ayah mereka berkata kepada mereka: ‘Anak-anakku, hati-hatilah agar jangan berteman dengan-Nya lagi, karena Ia adalah seorang tukang sihir: oleh karena itu, menjauhlah dari-Nya, dan hindarilah Dia, dan jangan bermain lagi dengan-Nya sesudah ini.’’” 7

Dan demikian pula dalam Qur’an, dimana hal itu menjadi suatu indikasi lain adanya pengkhianatan orang-orang Yahudi kafir: “Ingatlah ketika Allah mengatakan: “Hai, Isa Putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia ketika kamu masih di dalam buaian dan sesudah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajar kamu untuk menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan ingatlah pula diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijinku, kemudian kamu meniup padanya, dan bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan ijinKu. Dan ingatlah waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizinku, dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu, dan ingatlah ketika
Aku menghalangi bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) dikala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata” (Sura 5:110).

Pengalaman Muhammad dengan kelompok-kelompok bidat Kristenjuga dapat menjelaskan pandangannya mengenai penyaliban Kristus. Orang Muslim percaya bahwa Ia diangkat ke surga hidup-hidup, dan tidak pernah mencicipi kematian; adalah tidak mungkin bagi Allah untuk mengijinkan salah satu nabi-Nya harus mati dengan malu dan kehinaan, maka Allah menggantikan seorang lain yang menyerupai-Nya sebelum Ia disalibkan. Orang Yahudi mengira bahwa mereka benar-benar menyalibkan Yesus, tetapi sebenarnya si penirulah yang disalibkan: “dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka ...” (Sura 4:157)!

Ini sangat mirip dengan pandangan beberapa kelompok bidat Kristen yang dikenal dengan kelompok Gnostik. Kelompok Gnostik mengajarkan bahwa hal-hal fisik adalah jahat dan oleh karena itu Yesus, sebagai Juruselamat dunia, tidak mungkin mengenakan tubuh jasmaniah, dan tentu saja tidak mungkin disalibkan. Tuhan hanya membuat seolaho-lah Dia-lah yang tergantung di salib – atau, menurut beberapa teks Gnostik, membuat Yudas menyerupai Yesus dan menaruhnya di salib menggantikan tempat Tuhan.

Kenyataan bahwa Qur’an menghadirkan ayat ini sebagai sebuah penyelesaian terhadap pertikaian (“oleh karena itu mereka yang berbeda pendapat sebenarnya penuh keraguan, tanpa adanya pengetahuan [yang pasti], namun hanya ikut-ikutan, karena sesungguhnya mereka tidak membunuh-Nya”) menyarankan bahwa bisa jadi Muhammad telah bertemu dengan kelompok-kelompok Kristen yang bertikai dan bermaksud menghadirkan wahyunya sebagai resolusi akhir dari masalah tersebut.

Kita tidak usah berasumsi bahwa Muhammad benar-benar membaca bahan-bahan bidat Kristen tersebut yang nampaknya telah mempengaruhi Qur’an. Lebih besar kemungkinannya bahwa ia pernah mendengar materi ini tersebut dibacakan atau diajarkan, oleh karena peminjaman yang dilakukannya itu tidak dalam bentuk kata-per kata.

Kadangkala cara ia menyampaikan materi dari Alkitab memperlihatkan bahwa ia hanya sedikit mengenal kisah-kisah Alkitab yang ia ceritakan kembali; dalam catatan Qur’an mengenai kelahiran Yesus, kerabat-kerabat Maria ibu-Nya memanggilnya dengan “saudara perempuannya Harun” (Sura 19:28). Nampaknya, Muhammad mengalami kebingungan antara Miriam saudara perempuan Musa dan Harun dengan Maria ibunda Yesus. Dalam bahasa Arab kedua nama itu identik: Maryam. Namun demikian, ketika salah seorang pengikutnya dikonfrontasi dengan hal ini oleh orang-orang Kristen dari Najran, dan kembali pada Muhammad untuk menanyakan hal tersebut, sang Nabi Islam telah menyiapkan jawaban: “Umat di jaman lalu biasa memberikan nama (pada orang-orangnya) dengan nama para Rasul dan orang-orang saleh yang telah mendahului mereka.”8 Jadi Maria ibu Yesus dipanggil “saudara perempuan Harun” sebagai sebuah penghormatan, bukan sebuah kesalahan. Kekacauan ini seringkali berkaitan dengan klaim yang dikemukakan berulangkali bahwa Muhammad adalah seorang yang buta huruf. Ini adalah batu penjuru bagi apologetika Islam, sehingga membuat Qur’an lebih lagi penuh mujizat – karena menyebutnya sebagai “Yaitu orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi, yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka...” (Sura 7:157).

Dari perspektif orang Muslim, bukanlah hal yang penting jika beberapa bagian Qur’an mempunyai gema/asal dari sumber-sumber terdahulu, apakah itu kanonikal atau tidak. Lagipula, teologi Islam tradisional berpandangan bahwa wahyu-wahyu terdahulu telah dipalsukan dan disusupi, dan dengan demikian memerlukan koreksi yang ditawarkan oleh Qur’an – tetapi oleh karena bentuk asli dari wahyu-wahyu terdahulu ada dalam Qur’an, maka tidaklah mengherankan kalau beberapa kitab yang terdahulu memuat bayang-bayang Qur’an.

Jadi bagi banyak orang Muslim, eksistensi jejak-jejak wahyu Qur’an dalam kitab-kitab terdahulu hanya mengkonfirmasi peran Qur’an sebagai yang memperbaiki dan menggantikan semua wahyu terdahulu.

Muhammad sendiri berbicara terang-terangan mengenai Islam yang menggantikan Yudaisme dan kekristenan, dan pada satu kesempatan menggunakan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan mengapa demikian. 9

PEMINJAMAN-PEMINJAMAN LAINNYA
Qur’an memberikan deskripsi yang banyak dan terperinci mengenai firdaus. Orang yang diberkati akan dimuliakan dengan “gelang-gelang dari emas dan mutiara” (Sura 22:23) dan “berpakaian sutra yang halus dan banyak brokat” (Sura 44:53). Ia akan berbaring di atas “kursi-kursi hijau dan karpet-karpet yang indah” (Sura 55:76), duduk di “tahta yang dihiasi emas dan batu-batu mulia” (Sura 56:15), dan makan dari “piring-piring dan mangkuk-mangkuk emas” – yang di dalamnya berisi “semua yang diinginkan jiwa, semua yang menyenangkan mata mereka,” termasuk “buah-buahan yang berlimpah” (Sura 43:71, 73) bersama dengan “kurma dan delima” (Sura 55:68). Disana juga akan menikmati “daging burung dari apa yang mereka inginkan”(Sura 56:21). Firdaus itu sendiri terdiri dari “taman-taman, dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya” (Sura 3:198; bdk.3:136; 13:35; 15:45; 22:23). Di dalamnya ada “dua mata air yang terus memancarkan air dengan kelimpahan yang tidak berkesudahan” (Sura 55:66), bersama dengan “sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah; sungai-sungai anggur, sukacita bagi mereka yang meminumnya; dan sungai-sungai dari madu murni dan jernih” (47:15). “Tidak ada dalam khamar itu alkohon, dan mereka tiada mabuk karenanya (Sura 37:47).

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari, dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (Sura
76:13-14)

Makanan dan kesenangan tidak akan pernah habis: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang takwa ialah (seperti taman). Mengalir sungat-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula)” (Sura 13:35).
Dan yang paling hebat tentunya adalah “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan” (Sura 78:31): “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya” (Sura 37:48), “Dan Kami berikan kepada mereka bidadari” (Sura 44:54), “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” (Sura 55:58) yang bertelekan di atas dipan berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (Sura 52:20). “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin” (Sura 55:56). Allah “membuat mereka gadis-gadis perawan” (Sura 56:36), dan berdasarkan tradisi Islam, mereka akan tetap menjadi perawan selamanya. “Dan berkeliling di antara mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan” (Sura 52:24), “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda” (Sura 56:17): “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan” (Sura 76:19).

Sudah barang tentu tidak satupun dari hal-hal ini ada dalam kitab-kitab suci orang Yahudi maupun orang Kristen, namun ada dalam tulisan-tulisan Zoroaster dari Persia, yang keberadaannya sangat penting di daerah-daerah di sekitar kekaisaran Persia sebelum munculnya Islam.

Menurut sejarawan W. St. Clair Tisdall, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam monografnya “The Sources of Islam,” yang kemudian dikembang-kannya menjadi sebuah buku, dan juga dalam tulisannya yang lain, “kitab-kitab Zoroaster dan Hindu ... mempunyai kesamaan yang luar biasa dengan apa yang kita temukan dalam Qur’an dan Hadith. Maka di Firdaus, diceritakan pada kita bahwa, ‘houris yang mempunyai mata hitam yang indah,’ dan sekali lagi mengenai ‘houris bermata hitam dan besar, bagaikan mutiara yang tersembunyi dalam cangkangnya’... Sebutan houry juga berasal dari Sumber Pehlavi atau Avesta, demikian pula jinn untuk genii, dan bihist (Firdaus), yang dalam Avestik berarti ‘tanah yang lebih baik’. Kita juga menemui kisah-kisah serupa dalam tulisan-tulisan Hindu kuno, mengenai pasukan surgawi yang terdiri dari anak-anak laki-laki dan perempuan yang sama dengan para houris dan ghilman di dalam Qur’an.”10

WAHYU-WAHYU YANG MENENTERAMKAN?
Aisha pernah bertanya pada Muhammad seperti apa pengalaman menerima wahyu itu, dan ia menjawab: “kadang-kadang wahyu itu (diturunkan) seperti dering lonceng, inspirasi dalam bentuk ini adalah yang paling sulit dari semua dan kemudian keadaan ini berlalu setelah saya memahami apa yang diinspirasikan. Kadang-kadang malaikat datang dalam bentuk seorang manusia dan berbicara padaku dan saya mengerti apapun yang ia katakan.”11 Pada kesempatan lain ia menjelaskan:
“Wahyu turun padaku dalam dua cara – Gabriel membawanya dan menyampaikannya padaku seperti seseorang menyampaikan pesan kepada seorang lain dan itu membuat saya gelisah.12 Dan wahyu itu turun padaku seperti bunyi bel hingga masuk dalam hatiku dan ini tidak membuat saya gelisah.” Aisha mengatakan: “Ketika wahyu turun kepada utusan Allah (kiranya damai ada atasnya) bahkan dalam hari-hari yang dingin, dahinya berkeringat.”13 Juga, ketika wahyu itu datang kepadanya “ia merasakan sebuah beban karena hal itu dan wajahnya berubah
warna,” dan “ia menundukkan kepalanya dan para sahabatnya pun menundukkan kepala mereka, dan ketika (keadaan ini) telah berakhir, ia mengangkat kepalanya.”14

Seorang Muslim pernah berkata: “Seandainya saja aku dapat melihat Rasul Allah saat ia sedang menerima wahyu ilahi.” Lalu, seseorang bertanya kepada Muhammad. Muhammad “menunggu sejenak, dan kemudian Wahyu Ilahi turun kepadanya...Wajah nabi menjadi merah dan ia terus bernafas dengan berat untuk sesaat dan kemudian ia menjadi lega.” Kemudian ia memberikan jawaban kepada si penanya.15

Beberapa kesulitan lain yang ditemui orang non-Muslim dalam hal menerima Muhammad sebagai seorang Nabi berasal dari keadaan/situasi saat ia menerima wahyu. Seperti yang akan kita lihat, seringkali selama karir kenabiannya ia menerima wahyu untuk menjawab kritik, atau menyelesaikan perdebatan, atau memberikan pendapatnya mengenai satu seri kejadian.
Banyak kali keadaan di sekitar pewahyuan itu nampaknya mencerminkan keresahan Allah untuk mengabulkan keinginan nabi-Nya – seperti dalam kisah heboh mengenai salah satu istri Muhammad, Zaynab bint Jahsh. Zainab telah menikah dengan anak angkat Muhammad Zayd bin Haritha – sebuah penyatuan yang tidak diinginkan keduanya, menurut tradisi Islam, tetapi sangat dikehendaki oleh Muhammad: itu akan menunjukkan kesetaraan semua orang beriman, karena Zaynab berasal dari keluarga terpandang sedangkan Zayd adalah seorang budak yang dimerdekakan. Muhammad menerima validasi ilahi atas keinginannya:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka (pilihan) yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya, maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata” (Sura 33:36).

Zaynab bint Jahsh sangatlah cantik. Menurut Tafsir al-Jalalayn, sebuah komentari Islam kuno mengenai Qur’an, setelah pernikahannya dengan Zayd, “Muhammad memandangnya, dan cinta untuk Zaynab menggelora dalam hatinya”16 Pada suatu hari, sambil mencari Zayd, Muhammad pergi ke rumah mereka dan sempat melihatnya hanya mengenakan chemise. Zaynab berkata, “Ia tidak ada disini, wahai Utusan Tuhan. Masuklah, wahai engkau yang terkasih bagiku seperti bapa dan ibuku!” Tetapi sang nabi Islam bergegas pergi dengan kemarahan, menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar dan kemudian berteriak, “Terpujilah Tuhan Yang Maha Kuasa! Terpujilah Tuhan, yang menyebabkan hati berpaling!”17

Zayd, terkungkung dalam pernikahan yang tidak diinginkannya, melihat sebuah jalan keluar. Ia pergi menemui Muhammad dan mengulangi apa yang dikatakan Zaynab: “Mengapa engkau tidak masuk, wahai engkau yang terkasih bagiku seperti ayah dan ibuku?” Kemudian ia mengutarakan maksudnya: “Wahai Utusan Tuhan, mungkin Zaynab telah menyenangkan hatimu, maka aku akan memisahkan diriku darinya.”

Muhammad berkata kepadanya: “....Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah...” (Sura 33:37). Zayd mendatanginya berulangkali, tetapi Muhammad tetap mengulangi nasehatnya. Aisha kemudian menceritakan, “Jika Rasul Allah harus menghapus apapun (dari Qur’an) pasti ia akan menghapus ayat ini.”18 Akhirnya Zayd menceraikannya, dan tidak lama kemudian Allah sendiri campur tangan.

Menurut sejarawan Muslim Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari (839-923), suatu hari Muhammad sedang berbicara dengan Aisha ketika “sebuah gagasan menguasainya.” Kemudian ia tersenyum dan berkata, “siapakah yang mau pergi kepada Zaynab untuk mengatakan padanya kabar yang baik, yaitu bahwa Allah telah menikahkannya denganku? ”

Kemudian ia mengucapkan wahyu yang baru saja diberikan Allah kepadanya, mengoloknya karena telah mengkuatirkan apa yang akan dipikirkan orang sehingga membuat ia menolak untuk menikahi Zaynab (Sura 33:37). Lalu Muhammad memperistri Zaynab, dan dilindungi dari
skandal oleh sebuah wahyu yang turun langsung dari Allah. Hingga hari ini, ketika orang Muslim membaca Qur’an mereka membaca peringatanperingatan ini yang ditujukan kepada Nabi, yaitu bahwa ia tidak boleh menampik pemberian-pemberian Allah, dan tidak boleh ragu untuk menikahi mantan menantunya.

Istrinya yang baru ini, dan situasi pernikahannya dengan Muhammad, mengkuatirkan Aisha. “Saya menjadi sangat tidak nyaman oleh karena apa yang kami dengar tentang kecantikannya dan juga hal-hal lainnya, dan hal yang paling menghebohkan adalah apa yang telah dilakukan Tuhan dengan menikahkannya. Menurut saya, ia akan menyombongkan hal ini pada kita.”19 Dan benarlah, Zaynab mengatakan pada istri-istri Muhammad lainnya: “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, tapi saya dinikahkan (kepada Nabi) oleh Allah dari atas langit ketujuh.”20 Kemudian Aisha menjawab: “Saya adalah satu-satunya istri yang kesuciannya dinyatakan dari surga” – dan dengan demikian muncullah kisah lain yang mempertanyakan situasi-situasi di sekitar pewahyuan kepada Muhammad.21

Belum lama berselang Muhammad memerintahkan agar wanita berkerudung, maka Aisha, ketika menyertainya ke medan perang, dibawa dalam tandu yang tertutup di atas punggung unta – ini memicu timbulnya krisis yang efeknya masih terasa dalam dunia Islam. Aisha menceritakan kisahnya:
“(Kami berkemah) ketika kami mendekati kota Medina. Kemudian ia mengumumkan agar berangkat pada malam hari. Saya terbangun ketika mereka mengumumkan keberangkatan, dan
saya pergi dari perkemahan pasukan, dan setelah selesai buang hajat, saya kembali ke binatang tunggangan saya. Saya menyentuh dada saya dan ternyata kalung saya yang terbuat dari mote-mote Zifar (yaitu mote-mote dari Yaman, separoh berwarna hitam, separoh berwarna putih) sudah hilang. Maka saya kembali untuk mencari kalung saya dan pencaharian saya memisahkan saya dari rombongan. (Sementara itu) orang-orang yang biasa memikul saya di unta saya, datang dan mengambil Hawdaj saya dan menaruhnya di atas punggung unta saya yang biasa saya tunggangi, karena mereka menganggap saya ada di dalamnya.

Pada jaman itu, berat badan wanita sangat ringan karena mereka tidak memiliki lemak, dan tidak banyak daging di tubuh mereka karena mereka terbiasa hanya makan sedikit. Jadi, orang-orang itu tidak merasa ada perbedaan berat Hawdaj itu ketika mereka mengangkatnya, dan mereka menaruhnya di dekat unta. Pada waktu itu saya masih seorang wanita muda. Mereka menyuruh unta itu berdiri dan mereka semua pergi (dengan unta itu). Saya menemukan kalung saya setelah pasukan itu pergi. ”

Oleh karena peraturan mengenai kerudung berarti bahwa tidak seorangpun yang dapat melihatnya atau berbicara kepadanya, dan berat badannya tidak membuat suatu perbedaan yang berarti, orang-orang yang mengangkat tandu Aisha ke atas untanya tidak tahu kalau ia tidak ada di sana. Jadi istri favorit Muhammad terhilang.
“Ketika saya sedang duduk di tempat peristirahanku, saya sangat mengantuk dan jatuh tertidur. Safwan bin Al-Muattal As-Sulami Adh-Dhakwani berada di belakang pasukan. Ketika ia tiba di tempatku pada pagi hari, ia melihat seseorang yang sedang tertidur dan ia mengenaliku karena ia telah pernah melihatku sebelum kerudung diwajibkan (diperintahkan). Lalu saya terbangun ketika ia membacakan Istirja’ (Inna lillahi wa inna llaihi raji’un = Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali) segera ketika ia mengenali saya.22 Saya langsung menutupi wajah saya dengan kerudung saya, dan demi Allah, kami tidak berbincang sepatah kata pun, dan saya tidak mendengarnya mengucapkan apapun selain dari Istirja. Ia melepaskan kekang untanya dan membuat untanya berlutut, meletakkan kakinya di kaki depan unta itu dan ia bangun dan menungganginya. Dan ia menggiring unta yang membawa saya sampai kami bertemu dengan pasukan di siang hari yang terik ketika mereka sedang berhenti untuk beristirahat.”

Aisha telah sendirian dengan seorang pria yang bukan suaminya. Bagi beberapa orang, itu sudah cukup untuk menimbulkan isu yang buruk mengenai dia: “(Oleh karena kejadian itu) beberapa orang mendatangkan kehancuran atas diri mereka sendiri,” kata Aisha, “dan orang yang menyebarkan fitnah itu adalah ‘Abdullah bin Ubai Ibn Salul” – bersama 3 orang lainnya (termasuk seorang pria bernama Mistah bin Uthatha dan saudari dari Zaynab bint Jahsh), juga beberapa orang lainnya. Kabar burung beredar, bahkan Muhammad juga terpengaruh oleh kabar burung itu dan menjauhkan diri dari Aisha.

Aisha menceritakan: “Setelah kami kembali ke Medina, saya sakit selama sebulan. Orang-orang sibuk menyebarkan kabar buruk dan fitnah sedangkan saya sama sekali tidak mengetahuinya, tetapi saya dapat merasakannya dalam kesakitan saya, oleh karena saya tidak menerima kebaikan yang biasa diberikan Utusan Allah jika saya dalam keadaan tidak sehat. (Tetapi sekarang) Utusan Allah hanya datang, memberi salam pada saya dan bertanya, ‘Bagaimanakah (perempuan) itu?’ Lalu ia pergi. Hal itu menimbulkan keraguan saya, tapi saya tidak menemukan kejahatan (fitnah) hingga saya sembuh dari sakit saya dan saya pergi keluar dengan Umm Mistah (yaitu ibu dari Mistah) ke Al-Manasi’ dimana kami biasa membuang hajat...”

Akhirnya Umm Mistah menceritakan pada Aisha soal pergunjingan itu, yang tentu saja membuat Aisha yang masih lemah merasa semakin terpuruk:
“Lalu penyakit saya menjadi semakin parah, dan ketika saya tiba di rumah, Utusan Allah datang padaku, dan setelah ia memberi salam padaku, ia berkata, ‘Bagaimanakah (perempuan) itu? Saya menjawab, ‘Maukah engkau mengijinkan saya untuk mengunjungi orang-tua saya? Karena saya ingin mendapatkan kepastian mengenai kabar burung itu dari mereka. Utusan Allah mengijinkan saya (dan saya pergi kepada orang-tua saya) dan bertanya pada ibu saya, ‘Oh, Ibu! Apakah yang digunjingkan orang-orang? Ia berkata, ‘Oh anakku! Janganlah kuatir, karena bagi wanita yang cantik dan dicintai oleh suaminya hanya akan ditemukan sedikit kesalahan, sedangkan suaminya mempunyai banyak istri lain.’ Saya berkata, ‘’Subhan Allah (terpujilah Allah!) apakah orang-orang benar-benar membicarakan hal ini?’ Malam itu saya terus menangis hingga subuh, saya tidak dapat berhenti menangis dan saya juga tidak bisa tidur. Lalu di pagi hari saya masih terus menangis.”

Dan ia mempunyai alasan yang tepat untuk menangis: Muhammad pada akhirnya mempercayai kabar burung itu, walaupun Aisha mempunyai orang-orang yang membelanya:
“(Ketika turunnya Wahyu Ilahi ditunda), Utusan Allah memanggil ‘Ali bin Abi Talib dan Usama bin Zaid untuk bertanya dan meminta nasehat mereka soal menceraikan saya. Usama bin Zaid mengatakan bahwa ia mengetahui ketidakbersalahan saya, dan ia menghormati saya. Usama berkata, ‘(Wahai utusan Allah!) Dia adalah istrimu, dan kami tidak tahu apa-apa selain hal yang baik mengenai dia.’ ”

Dengan gaya mencemoohkan, ‘Ali, yang kemudian menjadi orang saleh dan pahlawan yang hebat dalam kelompok Muslim Syiah, mengingatkan Muhammad bahwa “ada banyak perempuan” tersedia untuk nabi (Aisha tidak pernah melupakan hal ini, dan kemudian menyanggah klaim Ali bahwa Muhammad telah mengangkatnya menjadi penerusnya: “Kapan ia mengangkat orang itu melalui surat wasiat?

Sesungguhnya ketika ia wafat ia sedang beristirahat di dadaku dan ia meminta baskom air untuk mencuci muka dan kemudian tidak sadarkan diri, dan saya bahkan tidak melihat kalau ia telah wafat, jadi kapan ia mengangkat orang itu melalui wasiat?”).23

Cerita Aisha berlanjut:
“’Ali bin Abi Talib berkata, ‘Wahai Utusan Allah! Allah tidak menaruh engkau dalam kesulitan ini, dan ada banyak perempuan lain selain darinya, namun, tanyailah hamba perempuan itu (budak perempuan Aisha) yang akan mengatakan kepadamu tentang kebenaran.’ Maka Utusan Allah memanggil Barira (yaitu si budak perempuan) dan berkata, ‘Wahai Barira! Apakah kamu ada melihat sesuatu yang membangkitkan kecurigaanmu?’ Barira berkata padanya, ‘Demi Dia yang telah menurunkan padamu Kebenaran, saya tidak pernah melihat apa-apa padanya (yaitu Aisha) yang akan saya tutup-tutupi, kecuali bahwa ia adalah seorang perempuan muda yang tertidur dan membiarkan adonan roti untuk keluarganya begitu saja sehingga kambing-kambing
datang dan memakannya.’”

Muhammad merasa puas dengan jawaban ini, dan kembali kepada orang-orang yang menuduh Aisha. Aisha menceritakan: “Maka, pada hari itu, Utusan Allah naik ke atas mimbar dan mengeluh tentang ‘Abdullah bin Ubai (bin Salul) di hadapan para sahabatnya 24, dan berkata, ‘wahai kamu orang-orang Muslim! Siapakah yang akan melepaskan aku dari orang yang telah menyakit aku dengan pernyataan-pernyataannya yang jahat mengenai keluargaku? Demi Allah, aku tidak tahu apa-apa selain hal yang baik mengenai keluargaku dan mereka telah menyalahkan seorang pria yang padanya hanya kuketahui hal-hal yang baik dan ia tidak pernah masuk ke dalam rumahku kecuali aku ada bersama dengannya’...Sepanjang hari itu saya menangis dengan air mata yang tidak ada habisnya, dan saya tidak pernah bisa tidur. Pada pagi hari saya dan orang-tua saya menangis selama dua malam dan satu hari, dan air mata saya tidak
berhenti dan juga saya tidak bisa tidur hingga saya berpikir bahwa hati saya akan meledak karena saya terus menangis.

Sementara orang-tua saya duduk dengan saya dan saya sedang menangis, seorang wanita Ansari minta ijin pada saya untuk masuk, dan saya mengijinkannya masuk. Ia masuk, dan duduk dan mulai menangis bersama saya. Ketika kami sedang menangis, datanglah utusan Allah, memberi salam pada kami lalu duduk. Belum pernah ia duduk dengan saya sejak hari munculnya fitnah itu. Sebulan telah berlalu dan tidak ada Wahyu Ilahi yang turun padanya mengenai masalah saya. Kemudian Utusan Allah membaca Tashahhud (yaitu, La ilaha illallah wa anna Muhammadur- Rasul Allah – tidak ada yang lain yang dapat disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah) dan kemudian berkata, ‘Amma Ba’du’ (sekarang langsung ke masalahnya), Wahai Aisha! Aku telah diberitahu begini begitu mengenai engkau; jika engkau tidak bersalah, maka segera Allah akan menyatakan ketidakbersalahanmu, dan jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka bertobatlah kepada Allah dan mintalah pengampunan dari-Nya, karena jika seseorang mengaku dosa-dosanya dan meminta pengampunan dari Allah, maka Allah menerima pertobatannya. ”

Sejak itu Aisha mulai bangkit melawan para penuduhnya, bahkan ia mengutip Qur’an sebagai pembelaannya: “Ketika Utusan Allah menyelesaikan perkataannya, airmataku benar-benar berhenti dan tidak ada setetes pun yang tertinggal. Aku berkata kepada ayahku, ‘Jawablah Utusan Allah untukku mengenai apa yang dikatakannya.’ Ayahku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Utusan Allah’. Kemudian aku berkata kepada ibuku, ‘Jawablah Utusan Allah untukku mengenai apa yang dikatakannya’. Ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Utusan Allah.’ Tanpa mempedulikan kenyataan bahwa aku hanyalah seorang perempuan muda dan hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenai Qur’an, aku berkata ’Demi Allah, tidak diragukan lagi kalau aku mengetahui bahwa kamu telah mendengar perkataan (yang penuh fitnah) ini sehingga sudah tetaplah dalam pikiranmu dan kamu telah menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Sekarang, jika aku mengatakan padamu bahwa aku tidak bersalah, kamu tidak akan mempercayaiku, dan jika aku membuat pengakuan palsu bahwa aku bersalah, dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, tentu kamu akan mempercayaiku’ (Sura 12:18)...Kemudian aku berpaling ke sisi lain tempat tidurku, berharap bahwa Allah akan membuktikan ketidakbersalahanku.”

Dan Allah melakukannya: “Demi Allah, Utusan Allah tidak bangkit berdiri dan tidak seorangpun meninggalkan rumah itu sebelum Wahyu Ilahi turun kepada Utusan Allah. Lalu, ia dikuasai keadaan yang biasa menguasainya (ketika ia menerima wahyu ilahi). Keringat bercucuran dari tubuhnya seperti mutiara, walaupun hari itu dingin (di musim dingin) dan itu disebabkan oleh beratnya pernyataan yang sedang dinyatakan kepadanya. Setelah keadaan itu berlalu, Utusan Allah bangkit berdiri dan tersenyum, dan kata pertama yang diucapkannya adalah, ‘Wahai Aisha! Allah telah menyatakan ketidakbersalahanmu!’ (Sura 24:11-21).”25

Berikut adalah satu bagian yang panjang dalam Qur’an yang menyatakan ketidakbersalahan Aisha, mengejek orang-orang Muslim karena telah mempercayai tuduhan-tuduhan itu, dan menetapkan standar bagi bukti untuk kejahatan-kejahatan dosa seksual yang tetap menjadi bagian dalam hukum Islam hingga hari ini:
“...Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi
Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Sedangkan dia pada sisi Allah adalah suatu yang besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar... ” (Sura 24:11-20).

KONSEKUENSI-KONSEKUENSI
Tentu saja Muhammad mencintai Aisha, dan benar-benar lega ketika wahyu mengenai ketidakbersalahannya datang dari Allah. Tapi di sini, seperti juga dalam kasus Zaynab, nampaknya seakan-akan Allah mengkhususkan Qur’an untuk Nabi-Nya, yang semestinya Qur’an itu adalah berita universal yang dapat diaplikasikan oleh semua orang pada segala waktu dan tempat, dan menjadikannya hanya terlokalisir pada bidang-bidang tertentu saja. Bahkan Aisha sendiri terheran-heran: “Tetapi demi Allah, aku tidak mengira kalau Allah, (akan menyatakan ketidakbersalahanku), menurunkan Wahyu Ilahi yang kemudian dibacakan, karena aku menganggap diriku sangat tidak penting untuk dibicarakan Allah melalui Wahyu Ilahi yang dibacakan, tapi aku berharap bahwa Utusan Allah mendapatkan mimpi yang melaluinya Allah menyatakan ketidakbersalahanku.”26 Sudah tentu, banyak orang lain juga terheran-heran mengenai hal ini selama berabad-abad. Tentu saja dalam kasus ini, seperti juga kasus Zaynab, ada pembenaran yang telah ditetapkan melampaui hasrat Muhammad: orang-orang Muslim diperintahkan melalui kisah Zaynab bahwa seorang pria dapat menikahi janda cerai dari anak angkatnya – tak peduli betapa janggalnya hal itu sehingga diperlukan adanya pengesahan mengenai perkara itu kapan saja, belum lagi sebuah insiden serius yang melibatkan sang Nabi Allah dan wahyu ilahi. Konsekuensi dari hal ini adalah melemahnya adopsi dalam budaya Islam, karena Zayd tidak lagi dikenal sebagai “Zayd bin Muhammad”, tapi sebagai Zayd bin Haritha, yaitu nama dari ayah kandungnya. Qur’an berkata: “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah...” (Sura 33:5). 27

Tuduhan-tuduhan palsu terhadap Aisha memunculkan persyaratan bahwa 4 saksi pria Muslim harus dihadirkan untuk menentukan sebuah kejahatan perzinahan. Dalam kasus tingkah-laku seksual yang tidak pantas, 4 saksi pria wajib dihadirkan untuk menentukan perbuatan itu – berdasakan wahyu yang datang kepada Muhammad untuk membebaskan dari tuduhan, istrinya yang masih muda (Sura 24:13).28 Dan oleh karena perkataan Aisha tidak berarti apa-apa untuk menentukan kepalsuan tuduhan-tuduhan padanya, demikian pula hingga hari ini hukum Islam meremehkan validasi kesaksian seorang wanita – terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan immoralitas seksual. Qur’an berkata: “...Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang yang lain mengingatkannya...” (Sura 2:282).

Dan para pakar teori hukum Islam telah meremehkan kesaksian wanita bahkan lebih jauh lagi hingga memba-tasinya, seperti dalam kalimat sebuah buku panduan hukum seorang Muslim, “kasus-kasus yang melibatkan properti, atau transaksi-transaksi berkenaan dengan properti, seperti penjualan.”29

Selain daripada itu hanya pria yang boleh bersaksi. Akibatnya, bahkan hingga hari ini sangat tidak mungkin untuk membuktikan kasus pemerkosaan di negeri yang mengikuti hukum syariah. Pria mana saja dapat melakukan pemerkosaan dan lolos dari jerat hukum: jika mereka menyangkali tuduhan itu dan tidak ada saksi, mereka dapat melenggang bebas, karena penuturan si korban tidak dianggap. Lebih buruk lagi, jika seorang wanita menuduh seorang pria telah melakukan pemerkosaan, akhirnya dialah yang akan dituduh sebagai penjahatnya. Jika tidak ada saksi pria yang dapat dihadirkan, gugatan si korban tentang perkosaan akan berubah menjadi kasus perzinahan. Ini menegaskan kenyataan menyedihkan yaitu sebanyak 75% wanita di penjara Pakistan sebenarnya dipenjarakan karena telah melakukan kejahatan yaitu: menjadi korban perkosaan.30 Beberapa kasus besar di Nigeria baru-baru ini juga berkisar pada tuduhan perkosaan yang diputarbalikkan oleh pihak otoritas Islam menjadi tuduhan percabulan, yang menghasilkan hukuman mati yang baru kemudian dimodifikasi setelah adanya tekanan dunia internasional.31

Lebih jauh lagi, pelecehan-pelecehan semacam itu sangatlah resistan terhadap kritik dan reformasi – masalahnya semua itu berdasarkan pada teladan Nabi, yang adalah teladan sempurna bagi tingkah-laku manusia.

RASA MALU DI JAMAN MODERN
Namun demikian pada saat yang sama, banyak orang Muslim modern dan jurubicara Islam yang benar-benar merasa malu dengan hal ini – atau setidaknya mereka tidak terlalu menginginkan orang untuk banyak mengetahui tentang hal itu. Yahiya Emerick dalam The Life and Work of Muhammad hanya menceritakan bahwa Zaynab bint Jahsh dinikahi oleh Nabi, dan bahwa ia “belum lama berselang telah menceraikan Zayd bin Haritha oleh karena latar-belakangnya yang sederhana.”32 Ia tidak menyebutkan insiden yang melibatkan kebingungan Muhammad melihatnya tidak berpakaian, atau wahyu ilahi yang tertulis dalam Sura 33. Ia mengisahkan Muhammad mengadopsi Zayd dan kemudian dikenal dengan Zayd bin Muhammad, tanpa pernah menyebutkan mandat ilahi yang diterimanya sehingga kemudian mengubahnya menjadi Zayd bin Haritha.33

Muhammad Husayn Haykal, dalam karyanya Life of Muhammad, mengecam “kaum Orientalis” yang menggunakan kisah mengenai Zaynab untuk menghina Muhammad: “Kaum Orientalis Barat dan para misionaris berhenti sejenak untuk memberi angin kepada penolakan dan imajinasi mereka. Dalam pasal mengenai biografi Muhammad ini, beberapa diantara mereka bersusah payah untuk menggambarkan potret Zaynab yang sensual. Mereka mengemukakan bahwa ketika Muhammad melihatnya, waktu itu ia setengah telanjang, bahwa rambut hitamnya yang indah menutupi separuh tubuhnya, dan bahwa setiap lekuk tubuhnya penuh dengan nafsu dan hasrat. Yang lainnya mengemukakan bahwa ketika Muhammad membuka pintu rumah Zayd, hembusan angin menggoyangkan tirai kamar Zaynab, sehingga Muhammad dapat sedikit melihatnya berbaring di tilam dengan mengenakan gaun malamnya. Lalu mereka menceritakan kepada para pembacanya bahwa pemandangan ini menggetarkan hati Muhammad yang sangat berhasrat dalam cintanya dan kesukaannya pada wanita. Mereka mengatakan bahwa Muhammad telah menyembunyikan hasrat rahasianya, walau sulit baginya untuk menyembunyikannya selama itu! Gambaran ini dan juga banyak gambaran lainnya telah dilukiskan terus-menerus oleh para Orientalis dan misionaris dan dapat dibaca dalam tulisan-tulisan Muir, Dermenghem, Washington Irving, Lammens, dan yang lainnya. Tidak dapat disangkali bahwa kisah-kisah ini didasari pada biografi-biografi Muslim dan kitab-kitab Hadith. Tetapi buku-buku ini dapat dipertanyakan. Dan sangat disesalkan bahwa para penulis kita telah menggunakannya dengan kecerobohan. Sangatlah tidak termaafkan bahwa para sarjana ini telah membangun ‘Istana-istana di Spanyol’ berkenaan dengan hubungan Muhammad dengan wanita, istana-istana yang menurut mereka cukup dibenarkan dengan kenyataan bahwa Muhammad mempunyai banyak istri, kemungkinan besar sembilan, atau bahkan lebih, menurut beberapa versi.”

Haykal berespon terhadap hal ini dengan pertama-tama mengemukakan bahwa seandainya pun kisah pernikahan Zaynab dengan Muhammad adalah benar, itu masih tetap “tidak meninggalkan cacat dalam kenabian Muhammad, dalam kebesarannya ataupun ajaranajarannya.”

Mengapa tidak? Karena “peraturan-peraturan yang merupakan hukum bagi sejumlah besar orang tidak diterapkan pada jumlah yang lebih besar lagi. Suatu fortiori, mereka tidak menerapkan pada para nabi, para utusan Tuhan.” Dan di balik pandangan romantis yang mengejutkan ini, “kenyataan bahwa Muhammad bukanlah seorang pria yang penuh dengan nafsu seperti yang digambarkan oleh para Orientalis dan misionaris. Ia tidak menikahi istri-istrinya karena nafsu, hasrat ataupun cinta. Jika beberapa penulis Muslim dalam periode tertentu dalam sejarah telah mengijinkan diri mereka sendiri untuk mengenakan hal-hal seperti
itu kepada Nabi dan oleh karena itu menghadirkan dengan niat baik argumen-argumen untuk para musuh Islam, itu karena sifat mereka yang konservatif menyebabkan mereka mengadopsi cara pandang yang materialistis terhadap segala sesuatu. Dalam cara yang sedemikian mereka menggambarkan Muhammad sebagai yang terbesar dalam segala sesuatu termasuk nafsu dunia ini. Tetapi gambaran yang mereka buat jelas-jelas salah. Sejarah Muhammad terang-terangan menyangkalinya, dan logika kehidupan Muhammad sangat tidak konsisten dengan hal itu.”34

Sebaliknya, Karen Armstrong nampaknya lebih realistis. Ia bahkan mencatat komentar tajam Aisha setelah Muhammad menerima olok-olok ilahinya karena ingin menikahi Zaynab: “Sesungguhnya Tuhanmu bergegas untuk memenuhi permintaanmu.” Tetapi kemudian ia menjelaskan bahwa “orang Muslim di jaman ini menyangkal bahwa Muhammad menikahi Zaynab karena nafsu, dan tentu saja, nampaknya tidak mungkin wanita yang berusia 39 tahun yang telah hidup dalam kekurangan gizi sepanjang umurnya dan merasakan ganasnya matahari di jazirah Arab akan menginspirasikan badai emosi yang sedemikian terhadap payudara seseorang, sekalipun itu adalah seorang sepupu yang telah mengenalnya sejak ia masih kanak-kanak.”35

Namun demikian, hal ini bertentangan dengan kisah-kisah terdahulu, dalam mana seperti yang telah kita lihat, Muhammad benar-benar telah dikuasai oleh badai emosi ketika melihat Zaynab hanya mengenakan bagian dalam gaunnya, dan mengatakan kepada ayah angkatnya bahwa ia akan menceraikan istrinya jika istrinya itu telah “menyenangkan hatinya.”

Berkenaan dengan kabar burung di sekitar Aisha, Armstrong tidak mendiskusikan implikasi-implikasi dari kenyataan bahwa Muhammad tidak akan mempercayai perkataannya, tetapi nampaknya membutuhkan sebuah wahyu ilahi untuk membebaskannya. Ia tidak berfokus pada
kejanggalan wahyu itu, dan juga tidak menyebutkan kerugian-kerugian yang jelas terlihat yang diderita oleh kaum wanita Muslim. Sebaliknya, ia melihat “kewibawaan Aisha dalam menghadapi situasi tersebut”, bukti bahwa ada “keyakinan yang dapat Islam berikan kepada seorang wanita.” Armstrong juga tidak menyebutkan kalimat Aisha yang lainnya yaitu: “Aku tidak pernah melihat wanita manapun yang lebih menderita daripada wanita beriman.”37
Dan mereka terus menderita.

Catatan Kaki:
1. Mishnah Sanhedrin 4:5.
2. Parts of this collections were added later, after the time of Muhammad – but not the section containing the material about Abraham. See harry freedman and Maurice Simon, Bereshit Rabbah, Soncino, 1961. Vol. I, xxix.
3. Some may even have tried to fool Muhammad. One man who used to come talk with Muhammad later derided him for perhaps being too credulous in accepting those “tales of the ancients”: “Muhammad is all ears: if anyone tells him anything he believes it.” Once again Allah answered through the Prophet of Islam: “Among them are men who molest the Prophet and say, ‘He is (all) ear.’ Say , ‘He listens to what is the best for you: he believes in Allah, has faith in the Believers, and is a Mercy to those of you who believe.’ But those who molest the Messenger will have a grievous penalty” (Qur’an 9:61). The Qur’an also calls down divine woe upon “those who write the Book with their own hands, and then say: “This is from Allah, ‘to traffic with it for miserable price! Woe to them for what their hands do write, and for the gain they make thereby” (2:79). And when speaking of the People of the Book, Allah tells Muhammad: “As for those who sell the faith they owe to Allah and their own plighted word for a small price, they shall have no portion in the Hereafter. Nor will Allah (deign to) speak to them or look at them on the Day of Judgment, nor will He cleanse them (of sin). They shall have a grievous penalty. There is among
them a section who distort the Book with their tongues: (As they read) you would think it is a part of the Book, but it is no part of the Book; and they say, “That is from Allah,” but it is not from Allah: It is they who tell a lie against Allah, and (well) they know it!... If anyone desires a religion other that Islam (submission to Allah), never will it be accepted of him; and in the Hereafter he will be in the ranks of those who have lost (all spiritual good). How shall Allah Guide those who reject Faith after they accepted it and bore witness that the Messenger was true and that clear signs had come unto them? But Allah guides not a people unjust” (Qur’an 3:77-78; 85-86). Did some of the Jews mock Muhammad’s prophetic pretension by representing their own writings, or folkloric or apocryphal material, as divine revelation, and selling them to him?
4. Bukhari, vol. 9, book 91, no. 6982.
5. Bukhari, vol. 4, book 61, no. 3617.
6. “The Arabic Gospel of the Infancy of the Savior,” 1, Wesley Center for Applied theology, http://wesly.nnu.edu/biblical_studies/noncanon/gospels/infarab.htm.
7. “The Arabic Gospel of the Infancy of the Savior,” 36.
8. Muslim, book 25, no. 5326.
9. “The example of Muslims, Jews and Christians is like the example of a man who employed labourers to work for him from morning till evening. They worked till mid-day and they said, “We are not in need of your reward.’ So the man employed another batch and said to them, ‘Complete the rest of the day and yours will be the wages I had fixed (for the first batch).’ They worked up till the time of the ‘Asr prayer and said, ‘Whatever we have done is for you.’ He employed another batch. They worked for the rest of the day till sunset, and they receive the wages of the two former batches.” Bukhari, vol. 1, book 9, no. 558.
10. W. St. Clair Tisdall, “The Sources of Islam,” in The origins of the Koran: Classic essays on Islam’s holy Book, Ibn Warraq, editor, (New York: Prometheus Books, 1998), 281.
11. Bukhari, vol. 1, book 1, no. 2.
12. Ibn Sa’d, vol. 1, 228.
13. Imam Muslim, Sahih Muslim, Abdul Hamid Siddiqi, trans., Kitab Bhavan, revised edition 2000, book 30, no. 5764.
14. Muslim, book 30, no. 5766 and 5767.
15. Bukhari, vol. 6, book 66, no. 4985.
16. Quoted in Ali Dashti, 23 Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed, F.R.C. Bagley, translator, (Costa Mesa:Mazda Publisher, 1994), 132.
17. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari, The History of al-Tabari, Volume VIII, The Victory of Islam, Michael Fishbein, translator, (New York:State University of New York Press, 1997), 2.
18. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7420. “Behold! Thou didst say to one who had received the grace of Allah and thy favor [Zaid]: ‘Retain thou (in wedlock) thy wife, and fear Allah.’ But thou didst hide in thy heart that which Allah was about to make manifest: thou didst fear the people, but it is more fitting that thou shouldst fear Allah. Then when Zaid had dissolved (his marriage) with her, with the necessary (formality), We joined her in marriage to thee.” Why? ”In order that (in future) there may be no difficulty to the Believers in (the matter of) marriage with the wives of their adopted sons, when the latter have dissolved with the necessary (formality) (their marriage) with them. And Allah’s command must be fulfilled.”
19. Tabari, vol. 8, 3.
20. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7420.
21. Ibn Kathir, Tafsir Ibn Kathir (Abridged), volume 7, Darussalam, 2000, 698.
22. This is a prayer said at a time of distress.
23. Bukhari, vol. 4, book 55, no. 2741.
24. The followers of Muhammad during his lifetime are known as his Companions. The Companions fall into two group: al-Muhajiroun, or the emigrants from Mecca, and al-Ansar (helpers), the inhabitants of Medina who took in those emigrants after the Muslim’s flight (hijra) from Mecca to Medina. The Aws and Khazraj were two Ansari tribes.
25. Bukhari, book 5, vol. 64, no. 4141.
26. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7500.
27. Zihar was a pre-Islamic method of divorce, whereby a man would declare that his wife was to him like the back of his mother.
28. See also Bukhari, vol. 3, book 52, no. 2661.
29. Ahmed Ibn Naqib al-misri, Reliance of the Traveller [‘Umdat al-Salik]: A Classic Manual of Islamic Sacred Law, translated by Nuh Ha Mim Keller. Amana Publications, 1999, o24.8.
30. See Sisters in Islam, “Rape, Zina, and Incest,” April 6, 2000, http://www.muslimtent.com/sisterinislam/resources/sdefini.htm.
31. See Stephen Faris, “In Nigeria, A Mother faces Execution,” www.africana.com, January 7, 2002.
32. Emerick, 213.
33. Emerick, 52.
34. Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad, Isma’il Razi A. al-Faruqi, translator, 1968. Http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/MH_LM/default.htm.
35. Karen Amstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet, (San Francisco: Harper San Francisco, 1992), 197.
36. Ibid., 202
37. Bukhari, vol. 7, book 77, no. 5825.

22 comments:

  1. ketik aja di google.kristenbertuhantiga.tanpa spasi.di jamin kamu akan muntah dengan ajaran kristen!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengulas sejarah dimana kita tidak ada itu sangat melelahkan teman
      Alangkah baiknya kita mengikuti apa yang kita yakini bukan yang kita dengar dan kita baca.
      Salam damai
      menang BERSAMA
      hidup adalah PERJUANGAN

      Delete
  2. saat ada org bilang, "tuhan ada dalam hatinya"
    apakah berarti orang itu tuhan?
    itulah kesalahan terbesar umat nasrani dlm memahami kalimat isa al masih/yesus

    ReplyDelete
  3. ku pikir blog pinter, jadi salah sasaran, yang dibahas bukan Ilmiah suatu ajaran malah burung gagak.

    ReplyDelete
  4. Saudara-saudaraku Umat Islam (Kaum Muslimin dan Muslimat),
    Sangatlah terlalu dangkal pemikiran seorang manusia untuk memahami ketritunggalan ELLOHIM (bukan ALLAH dalam Islam). ELLOHIM atau YAHWEH adalah Tuhan sepanjang zaman, sepanjang masa, berbeda dengan konteks ALLAH SWT Islam yang dipandang umat Islam sama dengan ALLAH-nya orang Kristiani dan orang Yahudi. Banyak hal-hal yang berujud cerita di dalam Al Qur'an yang bertentangan dengan isi Kitab Perjanjian Lama maupun Kitab Perjanjian Baru dari Kristiani. Sebagai seorang Muslim yang baik, tidaklah penting Anda memperdebatkan ketritunggalan ELLOHIM karena sang Tuhan tidak dapat dipikirkan oleh pikiran manusia, tidak dapat dipahami secara manusiawi, namun secara spiritualitas/batin.
    Bisa saja umat Kristiani ataupun Yahudi membantah dan menyerang umat Islam dengan bukti-bukti arkeologis Arabia yang menjelaskan bahwa ALLAH SWT dengan simbol bulan sabit dan bintang adalah Dewa Tertinggi Bangsa Arabia pra Islam. Nama ALLAH sudah disebut-sebut Bangsa Arabia dari Kerajaan Sabean, bahwa Dia adalah Dewa Tertinggi dalam Pantheon Dewa-dewa Arabia. Agar menjadi sesuatu yang monotheistis, dewa-dewa yang lainnya "dilenyapkan" dari pemujaan dan hanya tinggal ALLAH yang disembah oleh Bangsa Arabia.
    Dalam ALKITAB jelas-jelas Tuhan Yesus menyatakan ke-ALLAH-an Nya dengan mengucapkan: Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup. Tidak seorangpun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.
    Memang sulit dipahami di dalam hal ini, yang menjadi TUHAN adalah Bapa atau Yesus. Tetapi, jika kita hayati secara spiritualitas, yang dimaksud Bapa adalah pribadi TUHAN dalam hal tertentu dan yang dimaksud Anak adalah pribadi TUHAN dalam hal tertentu pula. Jika nanti kita berada di Surga, yang kita lihat hanya ada 1 Tuan, yaitu TUHAN TRI TUNGGAL tersebut. Tidaklah sulit bagi TUHAN, untuk memecahkan dirinya menjadi 3, 5, atau 100 sekalipun. DIA ada di mana-mana, Dia melingkupi segala-galanya. Itulah misteri TUHAN yang tidak dapat dijangkau oleh manusia yang taat beragama sekalipun. Sampai kapan pun.
    Salam Damai.

    ReplyDelete
  5. astaghfirulloh,,,, sungguh,, apa kamu sadar apa yg telah kamu tulis d blog ini,,,

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah akhirnya umat nabi isa mulai belajar dan memahami isi dari alquran Surah Al-Ahzab

    Tp bila hati dan niat dalam mempelajari Al-quran hanya untuk mencari kesalahan-kesalahannya ya ini jadinya, seperti yang sudah di tuliskan di Al Baqarah.

    ReplyDelete
  7. Kebenaran dalam Islam itu hanya ada di AL Quran dan itu tidak ada satupun yg bisa menunjukkan kelemahan nya barang secuilpun
    Tulisan diatas sangat aneh, bahkan tidak jelas ayat apa, dari mana dan maknanya apa yg telah di kutip diatas

    ReplyDelete
  8. Kebenaran sejarah dalam awal manusia megenal Tuhan sangat urutan dan runut, jelas dan akurat, diselidiki secara ilmiah, dari berbagai ilmu terapan, serta sumber sumber yang sangat hakiki, ALKITAB memberi hasil bukti NYATA 1000000000000...% KEBENARANYA bahwa TUHAN telah ribuan Tahun tertulis kisahNYA tercatat segala MUJIZATNYA, hingga TUHAN memilih Kehadiran-NYA dan Kuasa-NYA pada sebuah bangsa yang sejarahnya berasal dari Keturunan yang tertulis sangat jelas dari Adam ke Abraham, Ishak, Yakub, Hingga Yesus Kristus semua nya di buktikan secara ilmiah dan pengetahuan, jadi ini sangat jelas disebut Kebenaran yang di IMANI dimana YAHWEH adalah nama IA yang AWAL dan yang AKHIR. dan YESUS KRISTUS TUHAN kedatangaNYA sangat jelas bahawa namanya tertulis di dalam ALKITAB ; KITAB PARA NABI dan KEDTANGAN NYA yang kedua tertulis didalam ALKITAB ; Kitab PARA NABI, KITAB PARA RASUL, serta KITAB WAHYU / KITAB NUBUATAN RASUL Yohanes. jadi sangat jelas bagi para pengikut YESUS KRISTUS sangat memahami Kebenaran yang Hakiki yang patut di Imani dan di Percaya sebagai jalan dan kebenaran di dalam kehidupan saat ini hingga kehidupan yang kekal, dasar ini menjadi sangat populer untuk menjadi landasan dasar kehidupan yang penuh damai dan penuh kasih, serta sistim hukum dunia menggunakan ini sebagai undang undang dasar negaranya, termasuk undang undang negara Indonesia. jadi banyak bangsa komunitas bahasa dan suku yang mengenal peradaban dan mental serta moral sempurna yang diungkapkan dari tauladan dan gaya pelayanan dari cara kehidupan Nyata Tuhan Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat Umat Manusia, banyak hal lainya tentang seluruh aspek khidupan manusia serta dampaknya yang sangat kena bagi bangsa, komunitas, suku dan bahasa mengambil dasar cara hidup Kristus Yesus inilah menginspirasi mereka semua. jadi kami sangat percaya kepada yang sesungguhnya Asli atau Genuine dari Kebenaran yang Hakiki dari YAHWEH melalui Firman TUHAN dari dua PerjanjianNya yang terdiri dari Kitab Perjanjian Pertama dan Kitab Perjanjian Kedua. tidak pernah satupun batu kebenaran ini bergeser dari bangsa ini TUHAN YAHWEH itu tidak pernah RAGU dan BIMBANG sekalipun DIA KECEWA namun DIA JUGA PEMURAH kepada BANGSA ISRAEL / YEHUDA. Kebenaran hanya Satu sekalipun banyak orang menganggap ada yang baik dan lebih baik dengan apa yang diyakininya namun soal Kebenaran yang hakiki TUHAN telah PILIH cara yang Mudah untuk dipahami, sekali kali sejarah akhir zaman menemui Kebenaran hingga Kini dan Nubuatan telah tertulis. Musuh musuh Israel dialah yang selalu berteriak teriak untuk memerangi Umat Pilihan TUHAN, sekalipun menggunkan cara cara baik dan kasih, sekalipun pada akhirnya kalah namun umat PILIHAN tetap bertahan sebagai Kebenaran yang hakiki menurut kadar dari TUHAN YAHWEH. jadi tetap berhati hatlah "Hati hatilah selalu dengan kejahatan karena dengan menggunakan kebaikan adalah cara efektif untuk meyesatkan dan memikat hingga masuk dalam cengkramanya" jadilah bijak dan penuhlah hikmat, berjaga jagalah selalu dalam doa.

    ReplyDelete
  9. maha suci Allah swt dari segala prasangka jijik umat manusia demi menghalalkan asumsi tuhan berwujud sbgai ciptaanNYA sendri(manusia).dzat Pencipta segala jagat raya..demi Keagungan dan Kebesaran illahi smakin terungkaplah kesesatan mereka hari ke hari..FAKTA yg jelas nyata di hadapan benak zahir bathin umat manusia masa kini yg ngak dapat dipesongkan umat trsesat trsbt..smakin hari smakin brtmbah umat manusia yg menemui jalan Kbenaran (ISLAM)..terlihat jelas FAKTA trsbut yg ngak akan dapat dipesongkan di kaburkan umat non muslim.maaf..(FAKTA).
    makalah kebenaran itu ssguhnya terang benderang tanpa abu abuan kabur.. HIDAYAH mthlak hanya milikNYA(Allah swt)..amin.;-)

    ReplyDelete
  10. demi keagungan Kebesaran Sang Maha Pencipta ssguhnya telah tertolak,terhumban,terbenam sgala kesesatan doktrin asumsi Tuhan di BOGELkan,di LUDAHI,di SIKSA,dikeji,di SALIB kutukan diperlakukan oleh prbuatan makhluk ciptaanNYA sndiri(insan)..ssguhnya amat layak umat doktrin sdemikian menempahi bhagian2 NERAKA jahanam di atas kejahilan dirinya sndri..
    demi Allah,ssguhnya illahi ngak pernah menzalimi hamba2NYA walau sebesar zarah,manusia itu sendirilah yg menZALIMI dirinya sendri..maha suci Allah dari apa yg mereka prasangka kan..HIDAYah diatas pundak kalian.amin.salam..;-(..

    ReplyDelete
  11. demi keagungan akal & mata hati kurniaan illahi;;manusia di tempat hutan terpencil,trsembunyi,terasing skalipun pun pasti ssguhnya tidak akan berasumsi tuhan seHINA,seLEMAH,segampang doktrin umat trsbut(kristiani)..tuhan hadir melalui saluran peranakan seorg manusia(wanita)??betapa pincangnya doktrin sdemikian jelik..
    maaf..skadar prkogsian jujur ssma leluhur(Adam as)..salam.;-o

    ReplyDelete
  12. “Dan mereka berkata: “Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah kerana ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, kerana mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak lagi Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” Surah Maryam : Ayat 88-93

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” Surah Al Ma’idah : Ayat 72

    “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahawasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” Surah Al Ma’idah : Ayat 73

    “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.” Surah Al Ma’idah : Ayat 77

    ReplyDelete
  13. salam teman2 non muslim or muslim..gua skadar brkongsi ayat2 Alquran brkenaan pesanan/ancaman firman Allah s.w.t kepada makhluk2NYA yg punya doktrin Illahi brwujud MANUSIA(makhluk)...
    mohon di nalarkan sbaik2 akal/mata hati..terserah pda keikhlasan kalian pada Pencipta kalian sndri(Allah S.W.T)..ssguhnya nabi isa as/JESUS hanyalah pnyambung kerasulan mulai ADAM as hinggalah penutup warisan kerasulan''MUHAMMAD s.a.w..skdar berbagi..salam aman..cinta kalian..peace

    ReplyDelete
  14. skadar prkgsian pda teman2 yg telah termakan/tertelan syubhat2 tuduhan Alquran dicipta Muhammad,mitos org2 dahulu,cacat,palsu, n dll..
    demi Akal/Hati kurniaan agung ILLAHI,,
    manna mungkin seorang manusia(MUHAMMAD) 1400 thun dahulu mengetahui segala kebenaran peredaran cakrawala,,kejadian BIG BANG, bumi BULAT,,bulan hanya pantulan cahaya ,,aturan proses kjadian manusia ddlm Rahim,,kwujudan sungai air tawar di bawah laut,,alam semesta sentiasa berkembang tnpa henti,pergerakan kitaran orbit planet2.. n dll dgn begitu TEPAT????(FAKTA) dibuktikan mlalui sains moden hari ini..subhanallah..

    mana mungkin seorg manusia hidup 1400 thun dahulu(buta huruf/ummi) Mngetahui segala kjadian trsebut jika tiada 1 sumber Kuasa Maha MNGETAHUI Maha Pencipta yg membimbingnya??(Allah S.W.T)..

    AL QURAN(mukjizat agung hingga akhir zaman).. monon dinalarkan seikhlas mungkin..fungsikan akal/hati kalian..(Alquran) dalil HAQ hujah bagi umat manusia akhir zaman!..dibuktikan/di pampangkan dhadapan mata/akal kalian sendri!..
    nikmat Tuhan mana lagi yg kalian mahu DUSTAKAN??..

    ReplyDelete
  15. demi Illahi Tuhan sekalian alam..gua cemburu amat kpada teman2 non muslim gua yg memeluk islam(muallaf))..kerna janJi Illahi mlalui rasulNYA(Muhammad s.a.w) kpda umat manusia yg memeluk islam(addeen)..;;
    setelah SYAHADAH diucapkan..gugurlah segala dosa2nya di imbal/ditukar mnjadi PAHALA berlipat ganda yg amat besar..subhanallah..cemburu amat!...hidayah hanya milikNYA..aminn..cemburuu deh!....;-o.peace

    ReplyDelete
  16. salam,,sekadar berbagi sbgai ssma leluhur(Adam as)..sisi gelap Alkitab di sebalik cover kulitnya yg di hias sbgai cinta kasih,khabar bahagia;;; benar!,,ada cerita yg baik2 di dlm alkitab..umat manusia x menafikan ada ajaran cinta kasih/khabar gmbira ddlm alkitab.....masalah pokoknya;;;;;;
    di sebalik cerita2 baik tu terselit jelas kejian2/fitnah2 kpada nabi/rasul,,perspektif cemuhan kutukan kpada tuhan sendiri,,ayat2 porno,,prtentangan ssma ayat n dll..maaf,,
    ini reality yg ngak dapat dismbunyikan umat manusia(non muslim)...(FAKTA)... gua secebis pun ngak ada niat utuk menghina / men fitnah kalian..
    buktinya lihat aja melalui DIALOG2 tokoh2 muslim bersama tokoh2 kalian di hdapan umat kalian sndri..''fair''..(dialog2 situs YOUTUBE).. fact;;
    gua nak pamerkan ayat2nya pun terasa x tergamak,,khuatir menyakitkn hati kalian..maaf,,
    tapi itulah kebenarannya..syor gua,,utuk lbih ikhlas baik kalian sndri yg menelaah,mmbaca ayat alkitab kalian sndri (mohon petunjuk Tuhan)...nk lbih fairr,,bandingkan brsama ayat2 Alquran..setelah itu trserah kjujuran kalian..ini pesanan teman2 muallaf gua pada kalian,,hnya pesanan..ikhlas2kan aja yup..salam..cinta smuanya..peace.;-)

    ReplyDelete
  17. Jika nubuat itu bukan untuk muhammad, lalu untuk siapa? Kapan? Belum muncul kah orangnya? Apakah nabi akan muncul di zaman kamera ini....bisa selfi donk.... klo nubuat di al kitab bukan utk muhammad.....maka nubuat itu tdk akan terbukti..

    ReplyDelete
  18. Jika nubuat itu bukan untuk muhammad, lalu untuk siapa? Kapan? Belum muncul kah orangnya? Apakah nabi akan muncul di zaman kamera ini....bisa selfi donk.... klo nubuat di al kitab bukan utk muhammad.....maka nubuat itu tdk akan terbukti..

    ReplyDelete
  19. sebenarnya wahyu2 yg diterima muhamad itu karangan muhamad atau nyontek dari kitab2 terdahulu, boleh dikata muhamad adalah nabi palsu, karena ketika peristiwa muhamad yg katanya terima wahyu pertama di GOA HIRA. muhamad berbohong, ketauannya begini, malaikat jibril suruhan Allah datang pd muhamad dan muhamad disuruh baca tapi jawab muhamad tidak bisa baca diulangi suruh baca, dijawab tidak bisa baca pe 3x.nah yg ketahuan bohongnya masa Allah Maha Tau, jadi kenapa Tidak Maha Tau?. ya begitulah sesorang yg ingin mejadi nabi hingga lupa kalau allah itu Maha Tau. apalagi TIDAK seorangpun yg menyasikan ketika yg katanya terima wahyu dan hanya kata2nya sendiri (seperti lia eden saja atau ahmad musaddeq yg juga ngaku2 terima wahyu)apalagi terbukti tidak punya mujizat selayaknya nabi2, apalagi cuma baca saja ga bisa!. dan juga tidak mencerminakan sifat seorang nabi masa doyan anak umur 9 thn apalagi muhamad waktu itu sdh umur 53 thn pada hal istri2nya sudah banyak, belum lagi kelakuan2 sadiznya terhadap sesama manusia, yg nerani ngeritik, apalagi ga mau ngakuin (yg ga percaya) ia nabi, juga yg berani ngeritik, kepalanya dipenggal (contoh isis), maka zaman itu pengikutnya jadi banyak. kelihatankan seperti org yg ambius ingin menjadi nabi atau penguasa dunia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allah Maha Tau kenapa jadi Tidak Maha Tau.. kalau muhamad TIDAK bisa baca? aneh tapi ga aneh, karena org bohong pasti ada cirinya dan jadi ketahuan bohongnya

      Delete
    2. Karena Allah Maha Mengetahui bahwa Muhammad saw adalah org buta huruf, maka terpilihlah dia menjadi nabi terakhir, yah ini sejalan dengan kandungan taurat dan injil ...
      Semoga kita semua mendapat hidayah...

      Delete